Ini agak sedikit berbeda
dari tragedi sebelumnya karena tragedi ketika aku sudah mulai sekolah, sudah
kelas 5 SD. Waktu itu sedang musimnya main sepeda disekitar rumah, bagi yang
punya sepeda selalu bermain setiap sore atau pulang sekolah bagi yang tidak
punya sepeda ya menunggu temannya yang punya sepeda berbaik hati meminjamkan.
Kalau tidak ya mereka jadi penonton saja. Kami juga sering balapan sepeda baik
laki-laki maupun perempuan.
Aku juga punya sepeda,
sepeda warisan dari kakak lelakiku. Sepedanya cukup bagus, merknya Polygon
berwarna hijau. Sepeda ini sering rusak karena memperbaikinya tidak pernah ke
bengkel hanya dirumah saja dan kadang aku sendiri yang memperbaikinya kalau
tidak ada saudara atau teman yang membantu. Yang paling sering adalah bocor,
mungkin karena jalan disekitar rumah banyak paku atau benda tajam lainnya.
Kalau sepedanya bocor aku
sering meminjam sepeda tetangga, kadang untuk pergi beli sesuatu jika disuruh
ibu maupun hanya untuk main. Pernah satu kali aku dan beberapa teman balapan
sepeda, aku lumayan jago waktu itu. Setelah mengelilingi jalan yang cukup jauh
kami akhirnya ke arah jalan pulang, aku waktu itu entah didepan atau dibelakang
memacu sepedaku kencang sekali. Tiba-tiba hilang kendali dan remnya tidak
berfungsi, aku jatuh kejalanan yang sudah ditembok, waktu itu aku pakai celana
jeans dan celana bagina lututku robek sehingga lututku berdarah..
Tapi ada satu peristiwa
lagi yang tak terlupakan, peristiwa itu terjadi hari minggu, waktu itu ada
salah satu tetangga yang merayakan ulang tahunnya. Tentunya aku pergi kesana
karena semua anak juga pergi kesana. Setelah acara selesai, aku mengambil
sepeda dan mulai mengitari jalanan yang sudah ditembok jadi kalau main sepeda
lebih seru karena tidak terantuk-antuk batu atau masuk lubang.
Jalanan sekitar rumah itu
berada dipinggir kali, kami menyebutnya Tangaya. Waktu itu bisa dibilang kali
itu kering, sehingga menampakkan batu-batu hitam besar dan kecil didalamnya.
Dipinggiran kali itu juga terdapat batu-batu besar dan beberapa semak, antara
kali dan jalan dibatasi juga oleh tembok.
Aku sudah bisa
mengendarai sepeda sejak lama, namun tidak pernah bisa kalau lepas tangan
ataupun dengan gaya lain. Sore itu aku mencoba untuk tidak memegang stang
sepeda itu tapi aku coba memegang bagian tengahnya. Dengan sok-nya aku mencoba
itu di jalan pinggir kali itu, tiba-tiba sepeda itu mengarah kepinggir jalan
dan aku kehilangan keseimbangan. “ Aaaaaaaaaaaaa “ aku terjatuh, sepedaku jatuh
duluan ke kali berbatu. L
Jalanan waktu lumayan
ramai, mendengar suara benda terjatuh dan orang berteriak orang – orang
langsung menghampiriku. Ada tetanggaku yang langsung turun ke pinggir kali, aku
memanggilnya Uni karena memang lebih tua dariku. “Hoi hoi, si Vina jatuh si
Vina jatuh, tolong tolong” Uni itu berteriak minta tolong pada orang-orang
disekitar kejadian.
Aku menggerakkan badanku
yang teronggok dibebatuan pinggir kali itu, namun sangat sakit. “Uni, na ga
kuat berdiri lagi” kataku dengan lemah. Tapi sayangnya uni itu malah
menyelamatkan sepedaku duluan bukan aku yang diselamatkan duluan. Setelah sepeda
dievakuasi, akhirnya aku di angkat ketas jalan. Saat itu badanku rasanya remuk,
karena aku jatuh ke bebatuan dan tak kuat lagi rasanya berjalan.
Di atas jalan orang sudah
ramai ingin melihat korban yang jatuh dari sepeda ke kali itu. Tiba-tiba ada
yang bilang “ eh Vina itu berdarah, dagunya berdarah”. Aku bingung perasaan
tidak ada yang luka, aku pegang daguku dan ternyata daguku memang berdarah dan
dagingnya hilang sedikit ternyata. Kata orang yang melihat tulang dagunya
kelihatan sedikit. Mulailah orang – orang dan aku ikutan panik.
Beruntung saat itu ada
tetangga yang punya motor, aku langsung dilarikan ke Bidan terdekat (dikampung
ga ada Rumah sakit, kami biasanya memang berobat ke bidan, ga ada dokter), kami
bertiga diatas motor itu, aku ditengah. “ayo bawa ke bidan, cepat cepat” aku
dinaikkan ketas motor itu. Sampai dirumah bidan langsunglah diberi pertolongan, kata bidannya lukanya mesti dijahit. Alamak,
apa pula itu, yang aku tahu cuma baju yang dijahit. Katanya harus jahit 4, ya
sudahlah aku pasrah saja.
Dalam proses pengobatan,
tiba-tiba ibuku datang tergopoh-gopoh, cemas sekali. Waktu kejadian aku jatuh
itu, ibu sedang menerima telfon dari kakak ku di Jawa, nelfonnya dirumah
tetangga karena kami tidak punya telfon rumah. Jadi setelah aku dilarikan
kerumah bidan dan ibu selesai nelfon, para tetangga bilang kejadian yang aku
alami. Kemudian ibu langsung menyusul kerumah bidan tersebut.
Sebelum ibuku datang,
proses pengobatan berlangsung aman dan aku tidak terlalu memperlihatkan
kelemahanku. Nah, ketika ibu datang aku malah mewek karena mau dijahit dagunya.
Ternyata kita bisa menjadi lemah ketika tau ada orang yang menguatkan kita.
Bidannya bilang gini “ Lho kok udah ada ibunya malah nangis gitu, itu namanya
mah BG (bagak gaek)”. Aku hanya bisa tersenyum sambil menangis.
Setelah proses pengobatan
selesai, kami pulang. Jadi waktu itu ada sekitar 4-5 orang yang kerumah bidan
itu. Sesampai disekitar rumah aku disarankan untuk pijat/urut, mungkin ada
keseleo atau gimana. Kali ini aku pijat didekat rumah aja karena memang ada
yang bisa disekitar rumah. Ternyata memang ada yang sakit sekali ketika diurut,
itu tandanya ada masalah atau ga normal.
Setelah diurut aku merasa
badanku sedikit enak dan mulai ringan. Nah, dengan pedenya aku berlari ke arah
tempat aku terjatuh tadi dan ngobrol-ngobrol dengan orang yang duduk dipinggir
jalan yang menungguku (Pede sekali). Aku tidak langsung pulang, hampir mau
magrib aku baru pulang dan juga disuruh ibu.
Pelajarannya dalam
tragedi ini adalah JANGAN SOK BISA KALAU GA BISA, LAKUKANLAH SESUATU SESUAI
DENGAN KEMAMPUAN. KALAUPUN ITU SUDAH TERJADI MAULAH MENERIMA RESIKONYA JANGAN
MENANGIS.