Jumat, 18 April 2014

JATUH



Waktu itu aku belum masuk SD sepertinya tapi entahlah aku tak terlalu ingat yang jelas masih kecil, masih sangat senang bermain – main dengan teman sampai jauh-jauh. Tempat bermainku selain disekitar rumah juga di pinggiran danau, kali sampai sawah-sawah yang jauh dari rumah. Karena tinggal dikampung, secara tidak langsung aku dan teman-teman terbiasa bermain yang kotor-kotor bahkan yang ekstrem sekalipun bagi anak kota.
Siang itu, hari jum’at ada sebuah kejadian yang tak akan pernah terlupakan seumur hidupku. Siang itu sepi, para lelaki di sekitar rumah sudah berangkat ke mesjid untuk menunaikan sholat jum’at, teman – teman yang lain belum pulang sekolah dan yang lain hanya dirumah mereka. Sangat terik matahari saat itu, namun di depan rumah tetangga ada pohon seri (aku tak tau bahasa indonesianya apa) yang cukup tinggi, sudah setinggi rumah gadang. Pohon itu rimbun sekali dan berbuah lebat, rantingnya besar-besar sehingga nyaman untuk di panjat.
Nah, karena sudah bete dirumah dan tidak ada teman yang diajak bermain timbullah niat untuk ambil buah seri itu. Memanjat sebuah pohon bukan perkara sulit bagiku dan teman-teman walaupun perempuan. Aku mulai memanjat dengan tenang hingga sampai diatas pohon itu dan mulai mengambil beberapa buah yang sudah matang. Tak ada kesulitan berarti aku menikmatinya.
Namun, tiba-tiba tepat matahari sedang berada di atas kepala dan sepertinya juga adzan sholat jum’at berkumandang. Entah kenapa aku kehilangan kesimbangan dan jatuh ketanah, juga tidak tanah semua. Waktu itu, ternyata seorang tetangga yang mengambil buah seri juga namun dengan menggunakan galah. Teatangga itu jauh lebih besar dariku sekitar 6-7 tahun lebih tua dariku.
Mendengar cerita dari orang-orang, Uni itu mencob menangkapku saat aku terjatuh namun apa daya tidak bisa juga karena memang tubuhku sudah mulai besar. Aku terjatuh, kepalaku benjol sebesar telur ayam, tangan kiriku kabarnya patah dalam. Namun aku tidak ingat apa-apa lagi setelah jatuh dari pohon itu. Hanya mendengar cerita-cerita dari keluarga maupun tetangga.
Aku juga tidak terlalu ingat apakah aku dibawa ke dokter atau tidak setelah itu. Namun, yang aku tahu tanganku sudah dililit daun sereh agar cepat sembuh. Juga aku dibawa ketukang pijat oleh ayah karena bisa jadi ada bagian lain dari tubuhku yang terluka didalam.
Rumah tukang pijit itu lumayan jauh dari rumah dan harus menyeberangi kali/sungai. Aku selalu digendong ayah saat kesana,  walau kadang air kali itu deras kami tetap lewat sana.
Setelah beberapa waktu aku sembuh, pohon seri itu masih berdiri gagah dengan buahnya yang banyak sekali dan menggodaku untuk mencoba memanjatnya lagi. Kadang memang secara diam-diam aku naik pohon itu, namun ada beberapa teman yang mengadu pada ibu bahwa kau memanjat lagi. Alhasil, aku kena marah dirumah.
Tapi waktu itu, ibu-ibu lagi sibuk di sungai (kolam) mencuci maupun mandi. Ibuku juga disana, saat itulah kesempatanku untuk memanjat pohon itu, namun tidak lama ternyata ibu selesai mandi dan melihatku diatas pohon. Akhirnya aku disuruh turun, tak mempan dengan omelan aku di suruh turun pakai galah dari bawah, maksudnya ibu mengayunkan galah dari bawah ke arahku biar aku cepat turun dan aku turun.
Memang jika selalu ada kesempatan aku dan teman-teman selalu memanjat pohon itu sampai pohon itu tidak ada lagi. Pohon itu ditebang beberapa bulan atau tahun setelah aku jatuh karena ada satu tragedi lagi. Tetanggaku yang rumahnya sangat dengan pohon seri itu hampir mengalami kejadian serupa denganku, namun dia lebih beruntung.
Tetanggaku itu lebih muda sekitar 3-4 tahun dariku, namun karena rumah berdekatan kadang kami juga bermain bersama. Waktu itu, sepertinya juga hari jum’at juga dan siang itu sepi belum ada yang pulang sekolah. Tetanggaku ini, anak seorang guru. Karena dia belum sekolah (sepertinya) jadi dia sendirian dirumah, mungkin karena bete dirumah hanya nonton TV kemudian dia panjatlah pohon seri favorit kami itu.
Tapi, pas tiba diatas pohon dan mungkin sudah mendapatkan beberapa buah tiba-tiba dia bergelantungan saja disana, tak bisa kakinya mencapai sebuah dahan. Aku lupa siapa yang melihatnya pertama kali, namun saat itu semua orang yang berada dalam rumahnya keluar untuk melihat dan membantu tetanggaku itu. Sayangnya waktu itu ia tidak teriak minta tolong seingatku, hanya karena ada orang yang melihat mulailah ia minta tolong.
Untung waktu itu bapak-bapak belum berangkat sholat jum’at saat itu, lalu seorang bapak-bapak memanjat pohon itu dan membawa tetanggaku itu kebawah. Ia sudah pucat pasi, jika saja tak ada yang melihat entah apa jadinya tetanggaku itu. Tak lama setelah kejadian itu, pohon seri favorit kami ditebang, berkuranglah tempat bermain kami. Pelajaran dari kejadian-kejadian itu adalah JANGAN PERNAH MEMANJAT POHON PADA HARI JUM’AT.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Solo Travel : Cara Hemat dari Solok Ke BIM ( Bandara International Minangkabau)

Halo semuanya, akhirnya bisa nulis lagi disini karena baru ada yang mau di posting dan sedang ada niat :D Okey, 2 minggu lalu saya berkesemp...