Waktu
itu aku belum masuk SD sepertinya tapi entahlah aku tak terlalu ingat yang
jelas masih kecil, masih sangat senang bermain – main dengan teman sampai
jauh-jauh. Tempat bermainku selain disekitar rumah juga di pinggiran danau,
kali sampai sawah-sawah yang jauh dari rumah. Karena tinggal dikampung, secara
tidak langsung aku dan teman-teman terbiasa bermain yang kotor-kotor bahkan
yang ekstrem sekalipun bagi anak kota.
Siang
itu, hari jum’at ada sebuah kejadian yang tak akan pernah terlupakan seumur
hidupku. Siang itu sepi, para lelaki di sekitar rumah sudah berangkat ke mesjid
untuk menunaikan sholat jum’at, teman – teman yang lain belum pulang sekolah
dan yang lain hanya dirumah mereka. Sangat terik matahari saat itu, namun di
depan rumah tetangga ada pohon seri (aku tak tau bahasa indonesianya apa) yang
cukup tinggi, sudah setinggi rumah gadang. Pohon itu rimbun sekali dan berbuah
lebat, rantingnya besar-besar sehingga nyaman untuk di panjat.
Nah,
karena sudah bete dirumah dan tidak ada teman yang diajak bermain timbullah
niat untuk ambil buah seri itu. Memanjat sebuah pohon bukan perkara sulit bagiku
dan teman-teman walaupun perempuan. Aku mulai memanjat dengan tenang hingga
sampai diatas pohon itu dan mulai mengambil beberapa buah yang sudah matang. Tak
ada kesulitan berarti aku menikmatinya.
Namun,
tiba-tiba tepat matahari sedang berada di atas kepala dan sepertinya juga adzan
sholat jum’at berkumandang. Entah kenapa aku kehilangan kesimbangan dan jatuh
ketanah, juga tidak tanah semua. Waktu itu, ternyata seorang tetangga yang
mengambil buah seri juga namun dengan menggunakan galah. Teatangga itu jauh
lebih besar dariku sekitar 6-7 tahun lebih tua dariku.
Mendengar
cerita dari orang-orang, Uni itu mencob menangkapku saat aku terjatuh namun apa
daya tidak bisa juga karena memang tubuhku sudah mulai besar. Aku terjatuh, kepalaku
benjol sebesar telur ayam, tangan kiriku kabarnya patah dalam. Namun aku tidak
ingat apa-apa lagi setelah jatuh dari pohon itu. Hanya mendengar cerita-cerita
dari keluarga maupun tetangga.
Aku
juga tidak terlalu ingat apakah aku dibawa ke dokter atau tidak setelah itu. Namun,
yang aku tahu tanganku sudah dililit daun sereh agar cepat sembuh. Juga aku
dibawa ketukang pijat oleh ayah karena bisa jadi ada bagian lain dari tubuhku
yang terluka didalam.
Rumah
tukang pijit itu lumayan jauh dari rumah dan harus menyeberangi kali/sungai. Aku
selalu digendong ayah saat kesana, walau
kadang air kali itu deras kami tetap lewat sana.
Setelah
beberapa waktu aku sembuh, pohon seri itu masih berdiri gagah dengan buahnya
yang banyak sekali dan menggodaku untuk mencoba memanjatnya lagi. Kadang memang
secara diam-diam aku naik pohon itu, namun ada beberapa teman yang mengadu pada
ibu bahwa kau memanjat lagi. Alhasil, aku kena marah dirumah.
Tapi
waktu itu, ibu-ibu lagi sibuk di sungai (kolam) mencuci maupun mandi. Ibuku juga
disana, saat itulah kesempatanku untuk memanjat pohon itu, namun tidak lama
ternyata ibu selesai mandi dan melihatku diatas pohon. Akhirnya aku disuruh
turun, tak mempan dengan omelan aku di suruh turun pakai galah dari bawah,
maksudnya ibu mengayunkan galah dari bawah ke arahku biar aku cepat turun dan
aku turun.
Memang
jika selalu ada kesempatan aku dan teman-teman selalu memanjat pohon itu sampai
pohon itu tidak ada lagi. Pohon itu ditebang beberapa bulan atau tahun setelah
aku jatuh karena ada satu tragedi lagi. Tetanggaku yang rumahnya sangat dengan
pohon seri itu hampir mengalami kejadian serupa denganku, namun dia lebih
beruntung.
Tetanggaku
itu lebih muda sekitar 3-4 tahun dariku, namun karena rumah berdekatan kadang
kami juga bermain bersama. Waktu itu, sepertinya juga hari jum’at juga dan
siang itu sepi belum ada yang pulang sekolah. Tetanggaku ini, anak seorang
guru. Karena dia belum sekolah (sepertinya) jadi dia sendirian dirumah, mungkin
karena bete dirumah hanya nonton TV kemudian dia panjatlah pohon seri favorit
kami itu.
Tapi,
pas tiba diatas pohon dan mungkin sudah mendapatkan beberapa buah tiba-tiba dia
bergelantungan saja disana, tak bisa kakinya mencapai sebuah dahan. Aku lupa
siapa yang melihatnya pertama kali, namun saat itu semua orang yang berada
dalam rumahnya keluar untuk melihat dan membantu tetanggaku itu. Sayangnya waktu
itu ia tidak teriak minta tolong seingatku, hanya karena ada orang yang melihat
mulailah ia minta tolong.
Untung
waktu itu bapak-bapak belum berangkat sholat jum’at saat itu, lalu seorang
bapak-bapak memanjat pohon itu dan membawa tetanggaku itu kebawah. Ia sudah
pucat pasi, jika saja tak ada yang melihat entah apa jadinya tetanggaku itu. Tak
lama setelah kejadian itu, pohon seri favorit kami ditebang, berkuranglah
tempat bermain kami. Pelajaran dari kejadian-kejadian itu adalah JANGAN PERNAH
MEMANJAT POHON PADA HARI JUM’AT.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar