Hari raya kali
ini sepertinya saya hanya wisata keluar masuk hutan. Sebelumnya sudah ke air
tejun pinang (19 juli 2015) dan aia angek (21 juli 2015). Kali ini saya dan
teman-teman akan mendaki gunung talang, gunung yang sedang tenar-tenarnya bagi
pendaki pemula di Sumatera Barat. Sehari sebelum berangkat kami masih
terombang-ambing dengan kabar berita yang tak jelas, katanya pendakian ditutup,
biasanya seminggu setelah lebaran baru dibuka. Diujung berita yang tak pasti,
tujuan sempat di alihkan ke gunung Marapi di Koto Baru, Agam sana. Saya sedikit
kecewa tapi tak apalah kalau memang pendakian gunung Talang memang maish tutup
yang penting masih bisa nanjak. Setelah bertanya kian kemari, ternyata
pendakian tetap buka. Akhirnya tujuan diputuskan ke Gunung Talang.
Malam sebelum
berangkat, kami berdiskusi dulu mengenai logistik apa saja yang akan dibawa,
mau masak apa, dll. Ditengah diskusi ada masukan dari seorang uda yang sudah
biasa nanjak gunung di pulau Jawa, biasanya disana tak pakai masak-masak diatas
untuk pendakian 1-2 hari. Hanya banyak bawa roti dan mie instan karena hanya
akan memberatkan tas jika terlalu banyak bawa barang. Kami yang biasanya masak
kalau mendaki tentu kaget mendengarnya, karena memang kebiasaan disini pasti
masak diatas. Lagi pula tak kuat rasanya jika hanya mengandalkan roti dan mie
instan jika kita bermalam. Setelah diskusi panjang mungkin sedikit alot,
akhirnya kami mengikuti kebiasaan yang sudah-sudah.
Rabu, 22 juli 2015
Cuaca cerah
sejak pagi, sangat bersahabat menambah semangat untuk segera berangkat. Sudah
terbayang indahnya pemandangan dari puncak gunung Talang. Kami berangkat
bersembilan orang, 6 lelaki (Reki, Rendi, Da Eko, Da Ham, Da Fadli, Mak Afdal)
dan 3 wanita (Saya, Aulia dan Ni Mita). Awalnya hanya saya dan Aulia yang ikut,
karena rayuan maut kami semua akhirnya Ni Mita juga ikut di detik-detik
keberangkatan. Selesai menggoreng sarden dan memasak samba lado, beberes perlengkapan masing-masing kami berangkat pukul
11.30 yang niat awalnya berangkat pukul 09.00 (You know lah kenapa ngaret :D )
Waktu tempuh
dari kampung kami (SaniangBaka) ke pos pendakian di Aia Batumbuk sekitar 90
menit. Karena kami berangakt mendekati waktu dzuhur, kami berhenti dulu sholat
dzuhur di pom bensin Koto Baru dan melanjutkan perjalanan setelahnya dan sampai
di pos pendakian sekitar pukul 2 siang lewat dikit lah. Tapi ternyata yang
sampai cuma 4 motor, padahal kami 5 motor. Ternyata da Ham dan da Fadli salah
arah, lebih tepatnya ragu karena kata si Reki yang pernah kesana pos
pendakiannya tidak melewati kebun teh. Jadinya mereka ragu yang berbalik arah
dan terlambat sampai di pos.
Saya pikir
yang mendaki kali ini tak terlalu ramai, karena masih H+5 lebaran, pikiran saya
salah. Sudah banyak motor yang terparkir di pos menandakan sudah banyak juga yang
mendaki. Setelah membayar retribusi dan biaya parkir, kami memulai pendakian
sekitar pukul 3 siang. Mentari sedang tersenyum lebar hingga teriknya terasa
sekali.
Perjalanan
dimulai dengan melewati perkebunan teh, kaki gunung Talang memang banyak dijadikan
perkebunan teh. Berjalan sekitar hampir satu jam, kami sampai di pondok
terakhir dan wilayah tersebut merupakan tempat pendirian tenda terakhir sebelum
ke cadas. Kami istirahat sebentar dan sholat kemudian lanjut kembali agar tak
kemalaman dijalan. Belajar dari pengalaman sebelumnya, kali ini saya tak
terlalu gampang lelah karena berjalan santai baranti sambia bajalan, bajalan sambia baranti dibantu juga karena beberapa hari sudah
latihan ke air terjun dan jalan pagi. Jadi tubuh tak terlalu kaget ketika
dibawa berjalan lama.
Keindahan
kebun teh telah usai, kami memasuki pintu rimba. Sesuai namanya, kami hanya
akan melewati rimba belantara tapi jalur pendakiannya sudah jelas. Jalur
pendakian Talang sedikit berbeda dengan Marapi, disini lebih banyak bonus
daripada Marapi. Ketinggiannya juga berbeda Marapi 2891 mdpl sedangkan Talang
2597 mdpl membuat waktu tempuhnya juga jauh berbeda. Jika mendaki Marapi bisa
6-7 jam di Talang hanya 4-5 jam. Tapi tetap saja sensasinya sama, luar biasa
lelahnya.
Sore menjelang,
belum juga tampak puncaknya. Harapan dapat melihat matahari kembali ke
peraduannya dari atas pupus sudah. Hanya bisa menyaksikan rona jingga merah
yang menawan itu dari celah-celah pohon. Kelam perlahan mulai menghiasi, bulan
perlahan bangkit bergantian shift dengan mentari yang telah lelah. Pukul 18.15
kami baru sampai di nomor rambu 24, katanya ada sekitar 60 rambu sampai puncak.
Pekat malam
membuat perjalanan terasa makin jauh, kami sering berhenti. Trek pendakian
terasa makin berat. Jujur saja, saya takut sekali berjalan di belantara hutan
malam hari. Takut akan melihat hal-hal aneh, saya hanya melihat kearah kaki
berjalan tak berani memalingkan arah dan tak berani jalan paling depan.
Sekitar pukul
setengah sembilan malam kami sampai di lapangan yang sangat luas, yang
dijadikan tempat pendirian tenda bagi para pendaki. Sudah banyak tenda yang
tampak dan selalu saja ada yang berisik, macam pasar je. Setelah Reki mencari
tempat mendirikan tenda yang pas, beberapa ada yang mendirikan tenda, beberapa
mencari kayu bakar, beberapa bersiap memasak.
Dingin menusuk
tulang, angin gunung membuat malu jaket yang dipakai berlapis-lapis karena tak
mampu menahan dinginnya. Kayu bakar terkumpul, api unggun segera dibuat
berharap mampu mengusir dingin walau sekejap. Sembari menunggu nasi matang,
yang bisa dilakukan hanya menghangatkan badan, tapi sayang kopi panas terlalu
cepat dingin.
Nasi matang,
kami telah mengambil posisi terbaik untuk makan. Perut tlah terlalu lapar.
Setelahnya kami tak langsung tidur masih bercerita tentang apapun, saya ingin
mencoba untuk tidak tidur. Tapi rasanya tak bisa,mendekati pukul 01.00 malam
saya sudah terlelap. Tapi karena dinginnya keterlaluan dan posisi tidur tak
begitu nyaman, mungkin hanya sekitar 1 jam saya terbangun dan tak bisa tidur
lagi. Kemudian duduk diluar karena masih ada teman yang disana. Kami membuat
kopi lagi sembari menunggu waktu nanjak ke puncak dan teman lain masih tidur.
Rencananya
pukul 04.00 kami akan segera bergerak ke puncak, tapi akhirnya sekitar pukul 05.00
juga. (You know why). Reki yang menjadi pemimpin kami dalam pendakian ini, juga
belum pernah ke puncak. Jadi masih mencari jalur pendakian di shubuh yang kelam
itu, mengikuti pendaki lain yang sudah duluan. Kami melewati jalur di dekat
kawah, sehingga bau belerang sangat menyengat dan membuat cepat sesak nafas
sebelum masker dibasahi. Pendakian terasa sangat berat, mandaki tagak.
Mentari mulai
tampak, golden sunrise kata
orang-orang. Cantik nian. Sayang kami belum sampai dipuncak masih
dilereng-lerengnya. Hanya bisa menikmati bias cahaya keemasannya. Jika mendaki
dari jalur pendakian Bukik Sileh kita tak perlu berlelah-lelah untuk menikmati golden sunrise, namun katanya disana
trek nya lebih sulit dari yang kami lalui ini.
Semakin tinggi
semakin indah, lautan awan dihiasi keemasan cahaya matahari. Dari kejauhan
tampak puncak gunung tertinggi di Sumatera, Gunung Kerinci dan gunung-gunung
lainnya. Sampai di hutan mati, sudah mulai benderang. Hutan mati, hutan dengan
pohon-pohon tak berdaun. Katanya hutan mati terbentuk dari letusan Talang
bertahun-tahun yang lalu, pohon-pohon terkena awan panas atau semacamnya. Tapi
rumput-rumput dan tanaman kecil tetap ada yang membuatnya tetap hijau.
Kami hanya
sampai di hutan mati, istirahat dan makan. Tak melanjutkan ke puncak karena
masih jauh dan sudah agak panas. Lagi pula, semakin siang kabut akan semakin
tebal. Kami hanya berfoto-foto disana, saya dan 2 lainnya pergi turun ke tempat
yang dulunya mungkin danau atau kawah atau entah melihat edelweis yang banyak tumbuh.
Beruntung
sekali hari itu, cuaca cerah. Kolaborasi awan dan langit menentramkan jiwa.
Pemandangan indah sekali, dapat melihat tiga danau sekaligus; danau Talang,
danau di atas dan danau dibawah. Edelweis, bunga khas pegunungan ternyata tak
begitu banyak disini, tak seperti di Marapi. Beranjak siang, sekitar pukul
09.00 kami turun menuju tenda. Sebelum sampai di tenda, kami melihat satu
rombongan pendaki yang berhenti, ternyata da temannya yang pingsan. Mungkin
karena terlalu banyak menghirup asap belerang atau terlalu lelah karena
sepertinya mereka sampai ke puncak. Akhirnya, yang pingsan digendong oleh
temannya sampai ke tenda mereka.
Sampai di tenda, istirahat, makan siang dan
mulai bersiap packing pulang. Sekitar pukul 2 siang kami mulai turun agar tidak
kemalaman sampai rumah. Ada yang sedikit menarik, pas kami nanjak ada sebuah
bekas botol minuman yang dipotong hingga bisa memasukkan benda-benda kecil. Ada
satu koin uang 500 rupiah, lalu kami iseng juga menaruh uang disana. Ternyata
dijalan pulang, bekas botol tersebut masih ada dan sudah penuh oleh uang, tidak
hanya receh tapi juga uang kertas. Mungkin para pendaki merasa menaruh uang
disana wajib, takut pamali, dll.
Perjalanan
turun terasa lebih cepat, 2 jam kemudian kami sampai di pondok terakhir,
setelah ishoma kami lanjut turun dan sampai di pos sekitar pukul setengah enam.
Tak berlama-lama kami langsung pulang setelah melapor dan mengambil motor.
Talang memberi
kesan berbeda dari Marapi, tapi tetap sama indah dan ingin mengulang lagi.
Semoga dilain kesempatan bisa nanjak lagi :D






