Sabtu, 29 Agustus 2015

Mendaki Gunung Talang, Kab. Solok Sumatera Barat



Hari raya kali ini sepertinya saya hanya wisata keluar masuk hutan. Sebelumnya sudah ke air tejun pinang (19 juli 2015) dan aia angek (21 juli 2015). Kali ini saya dan teman-teman akan mendaki gunung talang, gunung yang sedang tenar-tenarnya bagi pendaki pemula di Sumatera Barat. Sehari sebelum berangkat kami masih terombang-ambing dengan kabar berita yang tak jelas, katanya pendakian ditutup, biasanya seminggu setelah lebaran baru dibuka. Diujung berita yang tak pasti, tujuan sempat di alihkan ke gunung Marapi di Koto Baru, Agam sana. Saya sedikit kecewa tapi tak apalah kalau memang pendakian gunung Talang memang maish tutup yang penting masih bisa nanjak. Setelah bertanya kian kemari, ternyata pendakian tetap buka. Akhirnya tujuan diputuskan ke Gunung Talang.

Malam sebelum berangkat, kami berdiskusi dulu mengenai logistik apa saja yang akan dibawa, mau masak apa, dll. Ditengah diskusi ada masukan dari seorang uda yang sudah biasa nanjak gunung di pulau Jawa, biasanya disana tak pakai masak-masak diatas untuk pendakian 1-2 hari. Hanya banyak bawa roti dan mie instan karena hanya akan memberatkan tas jika terlalu banyak bawa barang. Kami yang biasanya masak kalau mendaki tentu kaget mendengarnya, karena memang kebiasaan disini pasti masak diatas. Lagi pula tak kuat rasanya jika hanya mengandalkan roti dan mie instan jika kita bermalam. Setelah diskusi panjang mungkin sedikit alot, akhirnya kami mengikuti kebiasaan yang sudah-sudah.

Rabu, 22 juli 2015
Cuaca cerah sejak pagi, sangat bersahabat menambah semangat untuk segera berangkat. Sudah terbayang indahnya pemandangan dari puncak gunung Talang. Kami berangkat bersembilan orang, 6 lelaki (Reki, Rendi, Da Eko, Da Ham, Da Fadli, Mak Afdal) dan 3 wanita (Saya, Aulia dan Ni Mita). Awalnya hanya saya dan Aulia yang ikut, karena rayuan maut kami semua akhirnya Ni Mita juga ikut di detik-detik keberangkatan. Selesai menggoreng sarden dan memasak samba lado, beberes perlengkapan masing-masing kami berangkat pukul 11.30 yang niat awalnya berangkat pukul 09.00 (You know lah kenapa ngaret :D )
Waktu tempuh dari kampung kami (SaniangBaka) ke pos pendakian di Aia Batumbuk sekitar 90 menit. Karena kami berangakt mendekati waktu dzuhur, kami berhenti dulu sholat dzuhur di pom bensin Koto Baru dan melanjutkan perjalanan setelahnya dan sampai di pos pendakian sekitar pukul 2 siang lewat dikit lah. Tapi ternyata yang sampai cuma 4 motor, padahal kami 5 motor. Ternyata da Ham dan da Fadli salah arah, lebih tepatnya ragu karena kata si Reki yang pernah kesana pos pendakiannya tidak melewati kebun teh. Jadinya mereka ragu yang berbalik arah dan terlambat sampai di pos.
Saya pikir yang mendaki kali ini tak terlalu ramai, karena masih H+5 lebaran, pikiran saya salah. Sudah banyak motor yang terparkir di pos menandakan sudah banyak juga yang mendaki. Setelah membayar retribusi dan biaya parkir, kami memulai pendakian sekitar pukul 3 siang. Mentari sedang tersenyum lebar hingga teriknya terasa sekali.
Perjalanan dimulai dengan melewati perkebunan teh, kaki gunung Talang memang banyak dijadikan perkebunan teh. Berjalan sekitar hampir satu jam, kami sampai di pondok terakhir dan wilayah tersebut merupakan tempat pendirian tenda terakhir sebelum ke cadas. Kami istirahat sebentar dan sholat kemudian lanjut kembali agar tak kemalaman dijalan. Belajar dari pengalaman sebelumnya, kali ini saya tak terlalu gampang lelah karena berjalan santai baranti sambia bajalan, bajalan sambia baranti  dibantu juga karena beberapa hari sudah latihan ke air terjun dan jalan pagi. Jadi tubuh tak terlalu kaget ketika dibawa berjalan lama.
Keindahan kebun teh telah usai, kami memasuki pintu rimba. Sesuai namanya, kami hanya akan melewati rimba belantara tapi jalur pendakiannya sudah jelas. Jalur pendakian Talang sedikit berbeda dengan Marapi, disini lebih banyak bonus daripada Marapi. Ketinggiannya juga berbeda Marapi 2891 mdpl sedangkan Talang 2597 mdpl membuat waktu tempuhnya juga jauh berbeda. Jika mendaki Marapi bisa 6-7 jam di Talang hanya 4-5 jam. Tapi tetap saja sensasinya sama, luar biasa lelahnya.
Sore menjelang, belum juga tampak puncaknya. Harapan dapat melihat matahari kembali ke peraduannya dari atas pupus sudah. Hanya bisa menyaksikan rona jingga merah yang menawan itu dari celah-celah pohon. Kelam perlahan mulai menghiasi, bulan perlahan bangkit bergantian shift  dengan mentari yang telah lelah. Pukul 18.15 kami baru sampai di nomor rambu 24, katanya ada sekitar 60 rambu sampai puncak.
Pekat malam membuat perjalanan terasa makin jauh, kami sering berhenti. Trek pendakian terasa makin berat. Jujur saja, saya takut sekali berjalan di belantara hutan malam hari. Takut akan melihat hal-hal aneh, saya hanya melihat kearah kaki berjalan tak berani memalingkan arah dan tak berani jalan paling depan.
Sekitar pukul setengah sembilan malam kami sampai di lapangan yang sangat luas, yang dijadikan tempat pendirian tenda bagi para pendaki. Sudah banyak tenda yang tampak dan selalu saja ada yang berisik, macam pasar je. Setelah Reki mencari tempat mendirikan tenda yang pas, beberapa ada yang mendirikan tenda, beberapa mencari kayu bakar, beberapa bersiap memasak.
Dingin menusuk tulang, angin gunung membuat malu jaket yang dipakai berlapis-lapis karena tak mampu menahan dinginnya. Kayu bakar terkumpul, api unggun segera dibuat berharap mampu mengusir dingin walau sekejap. Sembari menunggu nasi matang, yang bisa dilakukan hanya menghangatkan badan, tapi sayang kopi panas terlalu cepat dingin.
Nasi matang, kami telah mengambil posisi terbaik untuk makan. Perut tlah terlalu lapar. Setelahnya kami tak langsung tidur masih bercerita tentang apapun, saya ingin mencoba untuk tidak tidur. Tapi rasanya tak bisa,mendekati pukul 01.00 malam saya sudah terlelap. Tapi karena dinginnya keterlaluan dan posisi tidur tak begitu nyaman, mungkin hanya sekitar 1 jam saya terbangun dan tak bisa tidur lagi. Kemudian duduk diluar karena masih ada teman yang disana. Kami membuat kopi lagi sembari menunggu waktu nanjak ke puncak dan teman lain masih tidur. 


Rencananya pukul 04.00 kami akan segera bergerak ke puncak, tapi akhirnya sekitar pukul 05.00 juga. (You know why). Reki yang menjadi pemimpin kami dalam pendakian ini, juga belum pernah ke puncak. Jadi masih mencari jalur pendakian di shubuh yang kelam itu, mengikuti pendaki lain yang sudah duluan. Kami melewati jalur di dekat kawah, sehingga bau belerang sangat menyengat dan membuat cepat sesak nafas sebelum masker dibasahi. Pendakian terasa sangat berat, mandaki tagak.
Mentari mulai tampak, golden sunrise kata orang-orang. Cantik nian. Sayang kami belum sampai dipuncak masih dilereng-lerengnya. Hanya bisa menikmati bias cahaya keemasannya. Jika mendaki dari jalur pendakian Bukik Sileh kita tak perlu berlelah-lelah untuk menikmati golden sunrise, namun katanya disana trek nya lebih sulit dari yang kami lalui ini.
Semakin tinggi semakin indah, lautan awan dihiasi keemasan cahaya matahari. Dari kejauhan tampak puncak gunung tertinggi di Sumatera, Gunung Kerinci dan gunung-gunung lainnya. Sampai di hutan mati, sudah mulai benderang. Hutan mati, hutan dengan pohon-pohon tak berdaun. Katanya hutan mati terbentuk dari letusan Talang bertahun-tahun yang lalu, pohon-pohon terkena awan panas atau semacamnya. Tapi rumput-rumput dan tanaman kecil tetap ada yang membuatnya tetap hijau.
Kami hanya sampai di hutan mati, istirahat dan makan. Tak melanjutkan ke puncak karena masih jauh dan sudah agak panas. Lagi pula, semakin siang kabut akan semakin tebal. Kami hanya berfoto-foto disana, saya dan 2 lainnya pergi turun ke tempat yang dulunya mungkin danau atau kawah atau entah melihat edelweis yang banyak tumbuh. 

Beruntung sekali hari itu, cuaca cerah. Kolaborasi awan dan langit menentramkan jiwa. Pemandangan indah sekali, dapat melihat tiga danau sekaligus; danau Talang, danau di atas dan danau dibawah. Edelweis, bunga khas pegunungan ternyata tak begitu banyak disini, tak seperti di Marapi. Beranjak siang, sekitar pukul 09.00 kami turun menuju tenda. Sebelum sampai di tenda, kami melihat satu rombongan pendaki yang berhenti, ternyata da temannya yang pingsan. Mungkin karena terlalu banyak menghirup asap belerang atau terlalu lelah karena sepertinya mereka sampai ke puncak. Akhirnya, yang pingsan digendong oleh temannya sampai ke tenda mereka.

 Sampai di tenda, istirahat, makan siang dan mulai bersiap packing pulang. Sekitar pukul 2 siang kami mulai turun agar tidak kemalaman sampai rumah. Ada yang sedikit menarik, pas kami nanjak ada sebuah bekas botol minuman yang dipotong hingga bisa memasukkan benda-benda kecil. Ada satu koin uang 500 rupiah, lalu kami iseng juga menaruh uang disana. Ternyata dijalan pulang, bekas botol tersebut masih ada dan sudah penuh oleh uang, tidak hanya receh tapi juga uang kertas. Mungkin para pendaki merasa menaruh uang disana wajib, takut pamali, dll.
Perjalanan turun terasa lebih cepat, 2 jam kemudian kami sampai di pondok terakhir, setelah ishoma kami lanjut turun dan sampai di pos sekitar pukul setengah enam. Tak berlama-lama kami langsung pulang setelah melapor dan mengambil motor.

Talang memberi kesan berbeda dari Marapi, tapi tetap sama indah dan ingin mengulang lagi. Semoga dilain kesempatan bisa nanjak lagi :D

Solo Travel : Cara Hemat dari Solok Ke BIM ( Bandara International Minangkabau)

Halo semuanya, akhirnya bisa nulis lagi disini karena baru ada yang mau di posting dan sedang ada niat :D Okey, 2 minggu lalu saya berkesemp...