Sumatera Barat, siapa yang tak kenal
surganya wisata alam dan kuliner. Pemandangan yang luar biasa indah dan makanan
khas berbagai nagari yang sangat lezat. Hingga rendangpun menjadi makanan
terlezat didunia, rendang beneran ya bukan rendang abal-abal yang dijual di
warung nasi Padang kebanyakan itu.
Sumatera Barat terdiri dari beberapa
kota dan kabupaten dan disetiap kota/kabupaten tersebut memiliki banyak nagari
dengan keunikannya masing – masing. Bulan Januari – Maret kemarin saya
berkesempatan menginjakkan kaki kembali ke tanah kelahiran saya, tak terlalu
banyak perubahan. Namun, semakin banyak objek wisata alam yang terpublikasi.
Gb 1. Jam Gadang di Bukit Tinggi
Salah satunya Tarusan Kamang, saya
tahu tempat ini dari foto Facebook salah seorang fotografer ranah minang
(Erison J Kambari). Ia menampilkan keindahan-keindahan alam yang tak
terbantahkan itu dan keunikan dari Tarusan Kamang itu. Terletak di Jorong Halalang, Nagari Kamang Mudiak, Kecamatan Kamang Magek,
Kabupaten Agam, Tarusan ini mudah dikunjungi karena akses kesana sudah cukup
baik.
Waktu itu saya dari
Solok, untuk sampai kesana memerlukan waktu sekitar 2 jam kalau sudah tau
rutenya dengan baik. Tapi waktu itu saya tidak langsung ke Tarusan Kamang,
namun mampir dulu di Bukit Tinggi tepatnya Jam Gadang hanya sekedar untuk
berfoto dan makan siang. Setelah dzuhur baru saya berangkat ke Tarusan Kamang
dengan modal nekat padahal saya hanya berdua dengan teman kesana dan sesama
cewek pula.
Jika sudah penasaran,
rasa takutpun akan hilang. Sepanjang perjalanan kesana kami banyak bertanya
pada orang-orang dipinggir jalan, tersesat sedikit hal yang biasa setidaknya
saya merasa aman karena saya paham dengan bahasa masyarakat disana. Perjalanan
kesana gampang sebenarnya, jalannya lurus dan bagus. Melewati sawah-sawah dan
rumah warga, walau jarang terlihat rumah gadang disana.
Gb 2. Pulau Kecil di Tengah Danau
Sekitar 20 – 30 menit
kami sampai di Tarusan itu, Masya Allah keren sekali atau mungkin saya yang
norak, entahlah. Namun, itu benar-benar bagus. Walau belum terlalu terawat,
saya pikir Tarusan ini nyaman untuk piknik bersama keluarga. Danaunya tak
terlalu luas tapi ada pulau kecil ditengahnya yang membuat ia makin cantik.
Dipinggir danau ada padang rumput setelahnya baru hutan. Jika kita duduk
dipadang rumput menghadap ke danau, kita akan melihat deretan bukit barisan
yang cantik.
Gb 3. Kerbau-kerbau milik warga di pinggir danau
Sebagian pinggir danau
banyak kerbau dan kubangannya milik
penduduk setempat, juga ada beberapa pondok-pondok yang menjual makanan ala
kadarnya. Di Tarusan ini juga bisa paralayang sepertinya, karena pas saya
kesana ada beberapa orang yang sedang mencoba untuk ‘terbang’ tapi sayangnya
waktu itu tak cukup banyak angin.
Gb 4. Mencoba Terbang
O ya, saya hampir lupa
keunikan Tarusan Kamang ini apa. Tarusan Kamang ini memiliki “dua wajah”,
terkadang bisa menjadi danau terkadang bisa menjadi padang rumput yang tak terpengaruh
oleh cuaca. Itu yang menjadikan saya sangat tertarik mengunjungi tempat itu.
Jika dibenahi sedikit
mungkin Tarusan Kamang ini akan lebih banyak pengunjungnya karena memang layak
untuk dikunjungi terutama untuk wisata keluarga. Tarusan Kamang ini juga
merupakan salah satu tempat syuting film Tenggelamnya Kapal Vander Wijck yang
di angkat dari novel Buya Hamka.
Sumber foto : Dokumentasi Pribadi




