Selasa, 21 Juli 2015
Hari ini saya
dan teman-teman berencana akan ke air terjun aia angek masih di kampung
tercinta, Saniangbaka. Karena beberapa teman tak bisa ikut ke air terjun pinang
kemarin. Lebaran kali ini memang
agendanya hanya masuk keluar hutan. Kami lebih memilih berwisata di dalam
nagari daripada keluar ke tempat wisata biasanya, karena kami anti manistream
dan terlebih alam di kampung kami tak kalah eksotik dari tempat wisata yang
sudah terkenal.
Menjelang
dzhur belum ada tanda-tanda dari teman-teman yang akan ikut menghubungi apakah
jadi pergi atau tidak. Rencana kandas, mereka mendadak tak berkabar dan
membatalkan. Beruntung saat itu, saya
mengajak ni siska dan ternyata adiknya juga akan kesana bersama teman-temannya.
Saya tetap jadi berangkat tapi dengan tim yang berbeda. Kami berangkat selepas
ashar, karena lokasinya tak terlalu jauh dari rumah jadi bagi kami tak masalah
lagipula kami pergi dengan adik-adik lelaki yang tangguh :D
Perjalanan ke
aia angek memang selalu membuat kita sering berhenti di jalan, berfoto dengan
pemandangannya yang cantik nian adalah hal yang sangat sayang untuk dilewatkan.
Pesona Danau Singkarak yang tak ada habisnya, perbukitan yang permai memang
selalu menggoda untuk mengabadikannya.
Sekitar
setengah jam di perjalanan dengan motor, kami berhenti dan melanjutkan
perjalanan dengan berjalan kaki melewati persawahan warga. Waktu tempuh semakin
singkat karena trek nya semakin mudah. Tahun lalu kami harus melewati pipa
paralon kali ini pembangunan irigasi sudah selesai jadi kami bisa melewati
saluran irigasi.
Hanya beberapa
menit akhirnya kami sampai. Setelah setahun lebih tak berjumpa ternyata air
terjun ini makin cantik saja. Walau dinginnya masih sama tapi tetap saja
membuat betah untuk berlama-lama disana. Kami sibuk, berfoto sana-sini mencari
spot terbaik. Setelah puas berfoto waktunya mengisi ‘sumatera tengah’ yang
telah memmberontak dari tadi.
Karena sang
surya hendak tenggelam, kami segera pulang. Kalau pulang terlalu sore memang
agak sedikit seram juga karena jalanan sepi dan tidak ada penerangan. Lagipula
kalau pulang agak cepat tetap saja sampai rumah akan gelap, karena sering
berhenti untuk foto lagi dan lagi. Akhirnya menjelang azan maghrib berkumandang
kami sampai di Balailalang. Walau hanya sebentar, kesannya selalu luar biasa.
Nb :
1.
Kalau ada yang mau kesana, sebaiknya pakai motor
trail, setidaknya motor bebek. Kalau tak ada juga boleh pakai motor matic, tapi
kasihan motornya
2.
Jangan lupa bawa makanan berat seperti nasi,
kalau hanya bawa cemilan kurang seru karena dipastikan sampai sana perut akan
lapar :D
3.
Kesana harus dengan laki-laki, jalurnya agak
berat.




