Gb 1. Gunung Marapi dari Saniang Baka
Hari
ini sedikit mendung, memang sekarang masih musim hujan. Pagi-pagi sekali saya
bersiap untuk memenuhi hasrat hati yang sudah sekian lama ditahankan, mendaki
gunung. Ya, hari ini saya akan mendaki gunung tertinggi kedua di Sumatera
Barat, gunung Marapi. Kami hanya berempat, dua laki-laki (Reki dan Reski) dan
dua perempuan (saya & Rifkah) yang juga masih saudara. Saya dan Rifkah
berangkat dari Solok sedangkan Reki dan Reski berangkat dari Padang. Reki dan
Reski sudah biasa mendaki gunung, jadi mereka yang menjadi guide kami.Gunung Marapi merupakan salah satu gunung berapi yang
masih aktif yang terletak di Kab. Agam dan Kab. Tanah Datar dengan ketinggian
2891 mdpl. Jalur pendakian yang biasa digunakan adalah dari Koto Baru. Waktu
tempuh dari Solok ke Koto Baru sekitar 1 jam dan dari Padang sekitar 2 jam
dengan menggunakan sepeda motor.
Kami
berangkatdari Solok sekitar pukul setengah 9 dan sampai di koto baru hampir jam
10 pagi. Kami memang janjian di pasar koto baru, disana ada beberapa pedagang
yang menjual berbagai keperluan mendaki.
Biasanya memang para pendaki membeli disitu jika ada perlengkapan yang kurang.
Dari pasar koto baru menuju pos pendakian sekitar 5-10 menit melewati
persawahan milik warga. Karena disini daerahnya dingin, maka sawahnya banyak
ditanami sayur-sayuran tidak seperti di solok yang sawahnya didominasi oleh
padi.
Cuaca
semakin mendung, saya agak ragu apakah bisa jadi mendaki atau tidak.
Diperjalanan ke koto baru pun kami sempat kehujanan. Tapi, dua lelaki pemandu
kami santai saja. Berarti kami tetap mendaki. Setelah memarkir motor di pos dan
mendaftar kami mulai berjalan kaki. Tarif parkirnya Rp 10.000/motorr dan daftar
Rp 7.000/orang. Sudah banyak sekali yang mendaki, pas kami sampai di pos saja
sudah ramai sekali karena sabtu-minggu memang banyak orang yang memanfaatkannya
untuk mendaki terutama mahasiswa.
Pukul
11.30 kami mulai berjalan, jalannya masih bagus sudah ditembok tapi sangat
menanjak. Karena saya kurang persiapan fisik, tidak ada olahraga sama sekali
baru sedikit jalan saya sudah ngos-ngosan dan sering berhenti sehingga sedikit
memperlambat perjalanan. Tapi teman-teman tak mempermasalahkan, karena tujuan
kami sampai dipuncak dengan selamat bukan paling cepat. Setengah jam berjalan
kami sampai di sebuah pondok, nama daerahnya katanya pesanggrahan. Disitu sudah
banyak juga pendaki yang istirahat baik yang baru turun atau baru akan naik.
Kami istirahat sebentar sembari menunggu waktu sholat dzuhur. Setelah dzuhur
kami melanjutkan perjalanan dan kami bertambah ramai karena ada satu rombongan
dari Bengkulu yang ingin mendaki bersama kami, mereka baru pertama kali ke
Marapi.
Kami
memasuki hutan bambu, jalan setapak yang lembab karena mungkin sebelumnya
hujan. Kami sempat mengambil air minum untuk persediaan di mata air koncek/mata
air kodok namanya, di mata air itu memang banyak anak kodok -_-. Sepanjang
perjalanan kalau kita bertemu dengan pendaki lain harus saling menyapa dengan
panggilan pak atau buk. Di awal perjalanan ada dua warung yang berjualan
makanan dan minuman. Perjalanan terasa semakin melelahkan ketika jalan sudah
mulai menanjak, saya semakin sering berhenti. Agar tak terlalu memperlambat
perjalanan, Reski yang membawa tenda mendaki lebih dulu agar bisa mendapat
tempat kemah. Kami bertiga mengikuti di belakang dengan santai. Di pertengahan
jalan mulai turun hujan, untung kami sudah membawa jas hujan tapi tetap saja
kami basah dan tas mulai makin berat. Mendekati maghrib kami baru akan sampai
di tempat kemah, saya sudah sangat letih dan rasanya mau menyerah. Namun ketika
melihat langit senja, matahari di balik Singgalang rasa lelah itu sedikit
terobati. Kami kemah di pintu angin, karena tempat kemah biasanya di Cadas
sudah banyak sekali yang kemah.
Gb 2. Mentari di balik Gunung Singgalang
Gerimis
mulai reda, saya agak pesimis besok tidak cerah karena tak terlihat sedikitpun
bintang malam itu. Tapi akhirnya bintangpun bermunculan satu per satu, indah
sekali. Dari tempat kemah, saya bisa melihat kota Padang Panjang dan Kota Bukit
Tinggi. Karena malam itu dingin sekali, setelah makan malam kami memutuskan
untuk langsung tidur. Walaupun sudah pakai sleeping bag saya masih kedinginan
dan menggigil tapi untung itu hanya sebentar. Tapi lagi enak-enaknya tidur
tiba-tiba kaki saya keram, ‘naik batih’ dalam bahasa kampung saya yang akhirnya
membangunkan teman yang lain.
Gb 3. Matahari terbit
Pukul
05.00 pagi kami bangun dan melanjutkan perjalanan menuju puncak gunung, walau
tidak sedingin semalam tapi tetap saja saya masih pakai jaket 2 lapis. Baru
setengah jam perjalanan saya kembali tidak kuat, pusing. Saya akhirnya numpang
dikemah orang di cadas. Rifkah dan Reski lanjut ke puncak karena ingin melihat
sunrise, Reki menunggu saya diluar kemah. Satu jam kemudian, saya bangun dan
melanjutkan ke puncak. Kelihatannya sudah dekat tapi masih jauh terasa karena
jalannya sangat menanjak. Tapi akhirnya saya sampai juga di puncak walau tak
sempat melihat sunrise.
Cuaca
pagi itu sangat bersahabat, cerah sekali. Terlihat gagahnya gunung Singgalang
dan Tandikat. Banyak pendaki sedang berfoto di sekitar Tugu Abel Tasman, tapi
saya tidak langsung kesana. Saya masih menikmati pemandangan yang menakjubkan
itu, akhirnya gunung Marapi yang biasanya hanya saya lihat dari Saniang Baka
kini saya berada di atasnya. Disini ada lapangan yang luas bisa untuk bermain
bola tapi karena kemarin hujan, lapangan itu setengahnya tergenang air.
Ditengah lapangan ada tiang bendera lengkap dengan sang saka merah putih, yang
diletakkan oleh pendaki sebelumnya. Setelah itu saya ke dekat kawah, ga
deket-dekt amat sih. Saya lebih banyak bermenung dan menikmati keindahan itu
dengan mata sendiri sehingga sedikit sekali foto-foto.
Gb 4. Tugu Abel Tasman
Ada
yang bilang, dakilah gunung-gunung atau datangilah pantai-pantai mungkin kau
akan lebih mengerti hidup. Ya bisa jadi, dengan berada ditempat tinggi ini
terlihatlah betapa kecilnya kita. Bukan apa-apa, jadi tak ada yang patut di
sombongkan sedikitpun. Jika Tuhan berkehendak, ketika kami berada di puncak
bisa saja gunung itu meletus dan jadilah kami bagai anai-anai yang
berterbangan. Mendaki juga mengajarkan betapa tidak mudahnya mencapai tujuan atau
mewujudkan harapan kita. Butuh usaha dan perjuangan, akan banyak hambatan untuk
mencapainya baik dari diri sendiri maupun lingkungan. Namun ketika sudah sampai
di puncak, kita akan merasakan betapa indah hasilnya memang hasil tak akan
pernah mengkhianati usaha.
Gb 5. Di dekat Kawah Marapi
Setelah
bertemu dengan Rifkah dan Reski yang memang sudah duluan sampai, kami membuat
kopi dan sarapan seadanya dengan biskuit yang kami bawa. Karena dingin jadi
kopinya cepat dingin pula. Pukul 10.30 kami mulai beranjak turun karena juga
sudah mulai berkabut. Perjalanan ke bawah memang lebih cepat tapi harus lebih
berhati-hati karena melewati bebatuan yang bisa saja jatuh dan mengenai pendaki
lain. Sempat ada batu jatuh karena ada seorang pendaki yang tidak melewati
jalan yang seharusnya mungkin karena ingin cepat. Untung saja tidak kena.
Gb 6. Kami :)
Sampai
di kemah kami mulai berberes untuk pulang dan mempersiapkan makan siang. Kami
hanya masak nasi dan mie, untung masih ada samba lado dan tahu sisa makan malam
kemarin walaupun tahunya sudah pucat pasi karena kedinginan. Setelah makan,
kami pulang sekitar pukul 13.45. baru sedikit berjalan mulai terasa
rintik-rintik hujan yang akhirnya menemani perjalanan kami sampai pos
pendakian. Kami sampai di pos shampir pukul 6 sore. Rasanya tak sanggup lagi
pulang ke Solok dengan tubuh ini, kaki rasanya sudah tak seperti kaki. Setelah
melapor di pos bahwa kami sudah turun semuanya dengan selamat, kami istirahat
lagi dan makan apa yang masih bisa dimakan untuk mengganjal perut.
Pukul
8.30 malam kami akhirnya pulang, saya dan rifkah ke solok sedangkan reki dan
reski ke Padang. Di sepanjang perjalanan pulang, arah ke solok sepi sekali.
Sedikit sekali kendaraan yang lewat, sekalipun lewat mereka selalu mendahului
kami. Saya juga ga berani ngebut karena masih hujan dan jalanan licin sekali.
Pukul 11.00 kami sampai di Solok dengan selamat dan saya langsung ke kasur.
Rindu sekali rasanya.
Besok
paginya bangun, makin terasa sakit-sakit di badan. Berjalanpun sudah pelan.
Tapi itu hanya 2 hari, hari ketiga semua sudah normal. Oleh-oleh dari Marapi
yang membekas adalah wajah yang berubah menjadi gelap :D
sumber foto : Dokumentasi Pribadi
sumber foto : Dokumentasi Pribadi
