Rabu, 08 April 2015

Mendaki Gunung Marapi Sumatera Barat (14 - 15 Maret 2015)





 Gb 1. Gunung Marapi dari Saniang Baka
Hari ini sedikit mendung, memang sekarang masih musim hujan. Pagi-pagi sekali saya bersiap untuk memenuhi hasrat hati yang sudah sekian lama ditahankan, mendaki gunung. Ya, hari ini saya akan mendaki gunung tertinggi kedua di Sumatera Barat, gunung Marapi. Kami hanya berempat, dua laki-laki (Reki dan Reski) dan dua perempuan (saya & Rifkah) yang juga masih saudara. Saya dan Rifkah berangkat dari Solok sedangkan Reki dan Reski berangkat dari Padang. Reki dan Reski sudah biasa mendaki gunung, jadi mereka yang menjadi guide kami.Gunung Marapi merupakan salah satu gunung berapi yang masih aktif yang terletak di Kab. Agam dan Kab. Tanah Datar dengan ketinggian 2891 mdpl. Jalur pendakian yang biasa digunakan adalah dari Koto Baru. Waktu tempuh dari Solok ke Koto Baru sekitar 1 jam dan dari Padang sekitar 2 jam dengan menggunakan sepeda motor.
Kami berangkatdari Solok sekitar pukul setengah 9 dan sampai di koto baru hampir jam 10 pagi. Kami memang janjian di pasar koto baru, disana ada beberapa pedagang yang  menjual berbagai keperluan mendaki. Biasanya memang para pendaki membeli disitu jika ada perlengkapan yang kurang. Dari pasar koto baru menuju pos pendakian sekitar 5-10 menit melewati persawahan milik warga. Karena disini daerahnya dingin, maka sawahnya banyak ditanami sayur-sayuran tidak seperti di solok yang sawahnya didominasi oleh padi.
Cuaca semakin mendung, saya agak ragu apakah bisa jadi mendaki atau tidak. Diperjalanan ke koto baru pun kami sempat kehujanan. Tapi, dua lelaki pemandu kami santai saja. Berarti kami tetap mendaki. Setelah memarkir motor di pos dan mendaftar kami mulai berjalan kaki. Tarif parkirnya Rp 10.000/motorr dan daftar Rp 7.000/orang. Sudah banyak sekali yang mendaki, pas kami sampai di pos saja sudah ramai sekali karena sabtu-minggu memang banyak orang yang memanfaatkannya untuk mendaki terutama mahasiswa.
Pukul 11.30 kami mulai berjalan, jalannya masih bagus sudah ditembok tapi sangat menanjak. Karena saya kurang persiapan fisik, tidak ada olahraga sama sekali baru sedikit jalan saya sudah ngos-ngosan dan sering berhenti sehingga sedikit memperlambat perjalanan. Tapi teman-teman tak mempermasalahkan, karena tujuan kami sampai dipuncak dengan selamat bukan paling cepat. Setengah jam berjalan kami sampai di sebuah pondok, nama daerahnya katanya pesanggrahan. Disitu sudah banyak juga pendaki yang istirahat baik yang baru turun atau baru akan naik. Kami istirahat sebentar sembari menunggu waktu sholat dzuhur. Setelah dzuhur kami melanjutkan perjalanan dan kami bertambah ramai karena ada satu rombongan dari Bengkulu yang ingin mendaki bersama kami, mereka baru pertama kali ke Marapi.
Kami memasuki hutan bambu, jalan setapak yang lembab karena mungkin sebelumnya hujan. Kami sempat mengambil air minum untuk persediaan di mata air koncek/mata air kodok namanya, di mata air itu memang banyak anak kodok -_-. Sepanjang perjalanan kalau kita bertemu dengan pendaki lain harus saling menyapa dengan panggilan pak atau buk. Di awal perjalanan ada dua warung yang berjualan makanan dan minuman. Perjalanan terasa semakin melelahkan ketika jalan sudah mulai menanjak, saya semakin sering berhenti. Agar tak terlalu memperlambat perjalanan, Reski yang membawa tenda mendaki lebih dulu agar bisa mendapat tempat kemah. Kami bertiga mengikuti di belakang dengan santai. Di pertengahan jalan mulai turun hujan, untung kami sudah membawa jas hujan tapi tetap saja kami basah dan tas mulai makin berat. Mendekati maghrib kami baru akan sampai di tempat kemah, saya sudah sangat letih dan rasanya mau menyerah. Namun ketika melihat langit senja, matahari di balik Singgalang rasa lelah itu sedikit terobati. Kami kemah di pintu angin, karena tempat kemah biasanya di Cadas sudah banyak sekali yang kemah.
 Gb 2. Mentari di balik  Gunung Singgalang
Gerimis mulai reda, saya agak pesimis besok tidak cerah karena tak terlihat sedikitpun bintang malam itu. Tapi akhirnya bintangpun bermunculan satu per satu, indah sekali. Dari tempat kemah, saya bisa melihat kota Padang Panjang dan Kota Bukit Tinggi. Karena malam itu dingin sekali, setelah makan malam kami memutuskan untuk langsung tidur. Walaupun sudah pakai sleeping bag saya masih kedinginan dan menggigil tapi untung itu hanya sebentar. Tapi lagi enak-enaknya tidur tiba-tiba kaki saya keram, ‘naik batih’ dalam bahasa kampung saya yang akhirnya membangunkan teman yang lain.
                                                                   Gb 3. Matahari terbit

Pukul 05.00 pagi kami bangun dan melanjutkan perjalanan menuju puncak gunung, walau tidak sedingin semalam tapi tetap saja saya masih pakai jaket 2 lapis. Baru setengah jam perjalanan saya kembali tidak kuat, pusing. Saya akhirnya numpang dikemah orang di cadas. Rifkah dan Reski lanjut ke puncak karena ingin melihat sunrise, Reki menunggu saya diluar kemah. Satu jam kemudian, saya bangun dan melanjutkan ke puncak. Kelihatannya sudah dekat tapi masih jauh terasa karena jalannya sangat menanjak. Tapi akhirnya saya sampai juga di puncak walau tak sempat melihat sunrise.
Cuaca pagi itu sangat bersahabat, cerah sekali. Terlihat gagahnya gunung Singgalang dan Tandikat. Banyak pendaki sedang berfoto di sekitar Tugu Abel Tasman, tapi saya tidak langsung kesana. Saya masih menikmati pemandangan yang menakjubkan itu, akhirnya gunung Marapi yang biasanya hanya saya lihat dari Saniang Baka kini saya berada di atasnya. Disini ada lapangan yang luas bisa untuk bermain bola tapi karena kemarin hujan, lapangan itu setengahnya tergenang air. Ditengah lapangan ada tiang bendera lengkap dengan sang saka merah putih, yang diletakkan oleh pendaki sebelumnya. Setelah itu saya ke dekat kawah, ga deket-dekt amat sih. Saya lebih banyak bermenung dan menikmati keindahan itu dengan mata sendiri sehingga sedikit sekali foto-foto.

                                                                                                                 Gb 4. Tugu Abel Tasman


Ada yang bilang, dakilah gunung-gunung atau datangilah pantai-pantai mungkin kau akan lebih mengerti hidup. Ya bisa jadi, dengan berada ditempat tinggi ini terlihatlah betapa kecilnya kita. Bukan apa-apa, jadi tak ada yang patut di sombongkan sedikitpun. Jika Tuhan berkehendak, ketika kami berada di puncak bisa saja gunung itu meletus dan jadilah kami bagai anai-anai yang berterbangan. Mendaki juga mengajarkan betapa tidak mudahnya mencapai tujuan atau mewujudkan harapan kita. Butuh usaha dan perjuangan, akan banyak hambatan untuk mencapainya baik dari diri sendiri maupun lingkungan. Namun ketika sudah sampai di puncak, kita akan merasakan betapa indah hasilnya memang hasil tak akan pernah mengkhianati usaha.
 Gb 5. Di dekat Kawah Marapi
Setelah bertemu dengan Rifkah dan Reski yang memang sudah duluan sampai, kami membuat kopi dan sarapan seadanya dengan biskuit yang kami bawa. Karena dingin jadi kopinya cepat dingin pula. Pukul 10.30 kami mulai beranjak turun karena juga sudah mulai berkabut. Perjalanan ke bawah memang lebih cepat tapi harus lebih berhati-hati karena melewati bebatuan yang bisa saja jatuh dan mengenai pendaki lain. Sempat ada batu jatuh karena ada seorang pendaki yang tidak melewati jalan yang seharusnya mungkin karena ingin cepat. Untung saja tidak kena. 

Gb 6. Kami :)


Sampai di kemah kami mulai berberes untuk pulang dan mempersiapkan makan siang. Kami hanya masak nasi dan mie, untung masih ada samba lado dan tahu sisa makan malam kemarin walaupun tahunya sudah pucat pasi karena kedinginan. Setelah makan, kami pulang sekitar pukul 13.45. baru sedikit berjalan mulai terasa rintik-rintik hujan yang akhirnya menemani perjalanan kami sampai pos pendakian. Kami sampai di pos shampir pukul 6 sore. Rasanya tak sanggup lagi pulang ke Solok dengan tubuh ini, kaki rasanya sudah tak seperti kaki. Setelah melapor di pos bahwa kami sudah turun semuanya dengan selamat, kami istirahat lagi dan makan apa yang masih bisa dimakan untuk mengganjal perut.
Pukul 8.30 malam kami akhirnya pulang, saya dan rifkah ke solok sedangkan reki dan reski ke Padang. Di sepanjang perjalanan pulang, arah ke solok sepi sekali. Sedikit sekali kendaraan yang lewat, sekalipun lewat mereka selalu mendahului kami. Saya juga ga berani ngebut karena masih hujan dan jalanan licin sekali. Pukul 11.00 kami sampai di Solok dengan selamat dan saya langsung ke kasur. Rindu sekali rasanya.
Besok paginya bangun, makin terasa sakit-sakit di badan. Berjalanpun sudah pelan. Tapi itu hanya 2 hari, hari ketiga semua sudah normal. Oleh-oleh dari Marapi yang membekas adalah wajah yang berubah menjadi gelap :D

sumber foto : Dokumentasi Pribadi

Solo Travel : Cara Hemat dari Solok Ke BIM ( Bandara International Minangkabau)

Halo semuanya, akhirnya bisa nulis lagi disini karena baru ada yang mau di posting dan sedang ada niat :D Okey, 2 minggu lalu saya berkesemp...