Minggu, 20 April 2014

Menembak Cicak

Menembak Cicak
Langit mulai kemerahan diatas sana, kami masih asyik bermain dipekarangan rumah. Sudah beberapa hari ini kami menemukan permainan baru yang mengasyikkan, baik laki-laki maupun perempuan melakukannya. Namun ada beberapa anak yang tidak mau karena takut, takut dimarahi orang tua atau takut melakukannya.
Permainan ini dimulai jika senja menjelang karena memang saat itu banyak sasaran permainan kami. Hanya butuh karet gelang untuk menikmati permainan ini, tapi entah ini bisa dibilang permainan atau tidak. “Teman-teman ayo kita ke surau, nanti keburu ilang sasarannya”, temanku mengajak kami pergi ke surau bukan untuk sholat magrib tapi untuk memulai permainan kami. “Ayo, nih karetnya udah banyak”, jawabku bersemangat.
Waktu itu aku kelas 3 SD, bermain dengan laki-laki itu hal yang wajar maupun permainan anak perempuan dan anak laki-laki tak jauh berbeda. Dilingkungan tempat tinggalku memang banyak sekali anak-anak, kami sering bermain bersama walau tak seumuran. Kami bermain apa saja yang bisa membuat kami senang, memanfaatkan apa yang ada disekitar tempat tinggal kami.
Menjelang adzan magrib, kami sudah standby didekat surau. Pemainan kami adalah menembak cicak, kami termotivasi dari kata orang-orang karena kalau membunuh satu ekor cicak sama dengan membunuh satu orang kafir. Entah dari mana teori itu berasal, kami yang masih anak-anak dengan lugunya menerima teori tersebut mentah-mentah dan mempraktekkannya.
Waktu itu aku hanya berempat orang, dua laki-laki dan dua perempuan. “Vin, itu banyak cicaknya ayo tembak ayo tembak”, temanku memberitahu sasaran empuk kami. Mulailah kami menembaki cicak itu dengan karete gelang yang kami punya, beberapa ada yang jatuh dan mati beberapa hanya jatuh dan tidak kena. Sedang asyik menembaki cicak itu, tiba-tiba aku merasa menginjak sesuatu.
Yang aku injak itu empuk, namun seketika betisku sakit dan berdarah. Disekitar surau itu memang ada anjing yang berkeliaran. Ternyata aku menginjak ekor anjing, mungkin anjing itu terkejut dan langsung menggigit kakiku kemudian dia menjauh. Aku teriak dan panik juga teman-temanku, kejadian itu pas adzan magrib. Ibu-ibu maupun bapak-bapak mulai berdatangan ke surau, mendengar aku berteriak ada satu ibu-ibu yang kami panggil Amah datang menolongku.
Aku dibawa pulang oleh Amah, aku sudah menangis karena kesakitan. Dirumah, Uni dan Abang sudah menunggu, waktu itu ibuku sedang di Jawa jadi dirumah hanya dengan keluarga Uni. Amah menceritakan kejadian aku digigit anjing kepada Uni, Uni langsung panik dan meminta Abang untuk membawaku ke bidan dekat rumah. Padahal sore itu uni sudah membuatkanku susu, namun aku enggan meminumnya malah lebih memilih bermain.
Sesampainya dirumah bidan katanya aku harus disunti, agar tidak kena rabies namun dirumah bidan itu tidak ada. Adanya hanya di puskesmas kota atau rumah sakit, besok paginya kami langsung kekota.
Katanya kalau kita digigit anjing dan anjingnya mati itu bisa-bisa kita rabies, setelah digigit itu aku, keluargaku dan tetangga sekitar mengawasi anjing itu apakah ia mati atau tidak. Tapi untung saja dia tidak mati dan aku juga tetap sehat.
Sebelumnya, namun aku tidak terlalu ingat aku juga pernah di gigit anjing katanya anjing gila. Waktu itu kami sedang bermain kejar rombong, ada dua rombongan yang harus saling mencari anggota. Kami berlari dan bersembunyi ditempat yang aman agar tidak ketahuan oleh rombongan lawan, aku tertinggal. Kata orang-orang, hari ini ada anjing lepas jadi jangan keluar rumah namun kami tetap saja bandel. Karena kebandelan itu, aku digigit anjing dibagian tanganku. Kasihan sekali memang namun apa daya, rejeki si anjingnya.
Jadi aku digigit anjing dua kali seumur hidup ini, karena kesalahan sendiri juga. Pelajarannya, KALAU MAGHRIB ITU SHOLAT MAGHRIB BUKAN NEMBAK CICAK.

Sabtu, 19 April 2014

JATUH LAGI (Memori Masa Kecil)



Ini agak sedikit berbeda dari tragedi sebelumnya karena tragedi ketika aku sudah mulai sekolah, sudah kelas 5 SD. Waktu itu sedang musimnya main sepeda disekitar rumah, bagi yang punya sepeda selalu bermain setiap sore atau pulang sekolah bagi yang tidak punya sepeda ya menunggu temannya yang punya sepeda berbaik hati meminjamkan. Kalau tidak ya mereka jadi penonton saja. Kami juga sering balapan sepeda baik laki-laki maupun perempuan.
Aku juga punya sepeda, sepeda warisan dari kakak lelakiku. Sepedanya cukup bagus, merknya Polygon berwarna hijau. Sepeda ini sering rusak karena memperbaikinya tidak pernah ke bengkel hanya dirumah saja dan kadang aku sendiri yang memperbaikinya kalau tidak ada saudara atau teman yang membantu. Yang paling sering adalah bocor, mungkin karena jalan disekitar rumah banyak paku atau benda tajam lainnya.  
Kalau sepedanya bocor aku sering meminjam sepeda tetangga, kadang untuk pergi beli sesuatu jika disuruh ibu maupun hanya untuk main. Pernah satu kali aku dan beberapa teman balapan sepeda, aku lumayan jago waktu itu. Setelah mengelilingi jalan yang cukup jauh kami akhirnya ke arah jalan pulang, aku waktu itu entah didepan atau dibelakang memacu sepedaku kencang sekali. Tiba-tiba hilang kendali dan remnya tidak berfungsi, aku jatuh kejalanan yang sudah ditembok, waktu itu aku pakai celana jeans dan celana bagina lututku robek sehingga lututku berdarah..
Tapi ada satu peristiwa lagi yang tak terlupakan, peristiwa itu terjadi hari minggu, waktu itu ada salah satu tetangga yang merayakan ulang tahunnya. Tentunya aku pergi kesana karena semua anak juga pergi kesana. Setelah acara selesai, aku mengambil sepeda dan mulai mengitari jalanan yang sudah ditembok jadi kalau main sepeda lebih seru karena tidak terantuk-antuk batu atau masuk lubang.
Jalanan sekitar rumah itu berada dipinggir kali, kami menyebutnya Tangaya. Waktu itu bisa dibilang kali itu kering, sehingga menampakkan batu-batu hitam besar dan kecil didalamnya. Dipinggiran kali itu juga terdapat batu-batu besar dan beberapa semak, antara kali dan jalan dibatasi juga oleh tembok.
Aku sudah bisa mengendarai sepeda sejak lama, namun tidak pernah bisa kalau lepas tangan ataupun dengan gaya lain. Sore itu aku mencoba untuk tidak memegang stang sepeda itu tapi aku coba memegang bagian tengahnya. Dengan sok-nya aku mencoba itu di jalan pinggir kali itu, tiba-tiba sepeda itu mengarah kepinggir jalan dan aku kehilangan keseimbangan. “ Aaaaaaaaaaaaa “ aku terjatuh, sepedaku jatuh duluan ke kali berbatu. L
Jalanan waktu lumayan ramai, mendengar suara benda terjatuh dan orang berteriak orang – orang langsung menghampiriku. Ada tetanggaku yang langsung turun ke pinggir kali, aku memanggilnya Uni karena memang lebih tua dariku. “Hoi hoi, si Vina jatuh si Vina jatuh, tolong tolong” Uni itu berteriak minta tolong pada orang-orang disekitar kejadian.
Aku menggerakkan badanku yang teronggok dibebatuan pinggir kali itu, namun sangat sakit. “Uni, na ga kuat berdiri lagi” kataku dengan lemah. Tapi sayangnya uni itu malah menyelamatkan sepedaku duluan bukan aku yang diselamatkan duluan. Setelah sepeda dievakuasi, akhirnya aku di angkat ketas jalan. Saat itu badanku rasanya remuk, karena aku jatuh ke bebatuan dan tak kuat lagi rasanya berjalan.
Di atas jalan orang sudah ramai ingin melihat korban yang jatuh dari sepeda ke kali itu. Tiba-tiba ada yang bilang “ eh Vina itu berdarah, dagunya berdarah”. Aku bingung perasaan tidak ada yang luka, aku pegang daguku dan ternyata daguku memang berdarah dan dagingnya hilang sedikit ternyata. Kata orang yang melihat tulang dagunya kelihatan sedikit. Mulailah orang – orang dan aku ikutan panik.
Beruntung saat itu ada tetangga yang punya motor, aku langsung dilarikan ke Bidan terdekat (dikampung ga ada Rumah sakit, kami biasanya memang berobat ke bidan, ga ada dokter), kami bertiga diatas motor itu, aku ditengah. “ayo bawa ke bidan, cepat cepat” aku dinaikkan ketas motor itu. Sampai dirumah bidan langsunglah diberi pertolongan,  kata bidannya lukanya mesti dijahit. Alamak, apa pula itu, yang aku tahu cuma baju yang dijahit. Katanya harus jahit 4, ya sudahlah aku pasrah saja.
Dalam proses pengobatan, tiba-tiba ibuku datang tergopoh-gopoh, cemas sekali. Waktu kejadian aku jatuh itu, ibu sedang menerima telfon dari kakak ku di Jawa, nelfonnya dirumah tetangga karena kami tidak punya telfon rumah. Jadi setelah aku dilarikan kerumah bidan dan ibu selesai nelfon, para tetangga bilang kejadian yang aku alami. Kemudian ibu langsung menyusul kerumah bidan tersebut.
Sebelum ibuku datang, proses pengobatan berlangsung aman dan aku tidak terlalu memperlihatkan kelemahanku. Nah, ketika ibu datang aku malah mewek karena mau dijahit dagunya. Ternyata kita bisa menjadi lemah ketika tau ada orang yang menguatkan kita. Bidannya bilang gini “ Lho kok udah ada ibunya malah nangis gitu, itu namanya mah BG (bagak gaek)”. Aku hanya bisa tersenyum sambil menangis.
Setelah proses pengobatan selesai, kami pulang. Jadi waktu itu ada sekitar 4-5 orang yang kerumah bidan itu. Sesampai disekitar rumah aku disarankan untuk pijat/urut, mungkin ada keseleo atau gimana. Kali ini aku pijat didekat rumah aja karena memang ada yang bisa disekitar rumah. Ternyata memang ada yang sakit sekali ketika diurut, itu tandanya ada masalah atau ga normal.
Setelah diurut aku merasa badanku sedikit enak dan mulai ringan. Nah, dengan pedenya aku berlari ke arah tempat aku terjatuh tadi dan ngobrol-ngobrol dengan orang yang duduk dipinggir jalan yang menungguku (Pede sekali). Aku tidak langsung pulang, hampir mau magrib aku baru pulang dan juga disuruh ibu.
Pelajarannya dalam tragedi ini adalah JANGAN SOK BISA KALAU GA BISA, LAKUKANLAH SESUATU SESUAI DENGAN KEMAMPUAN. KALAUPUN ITU SUDAH TERJADI MAULAH MENERIMA RESIKONYA JANGAN MENANGIS.

Jumat, 18 April 2014

JATUH



Waktu itu aku belum masuk SD sepertinya tapi entahlah aku tak terlalu ingat yang jelas masih kecil, masih sangat senang bermain – main dengan teman sampai jauh-jauh. Tempat bermainku selain disekitar rumah juga di pinggiran danau, kali sampai sawah-sawah yang jauh dari rumah. Karena tinggal dikampung, secara tidak langsung aku dan teman-teman terbiasa bermain yang kotor-kotor bahkan yang ekstrem sekalipun bagi anak kota.
Siang itu, hari jum’at ada sebuah kejadian yang tak akan pernah terlupakan seumur hidupku. Siang itu sepi, para lelaki di sekitar rumah sudah berangkat ke mesjid untuk menunaikan sholat jum’at, teman – teman yang lain belum pulang sekolah dan yang lain hanya dirumah mereka. Sangat terik matahari saat itu, namun di depan rumah tetangga ada pohon seri (aku tak tau bahasa indonesianya apa) yang cukup tinggi, sudah setinggi rumah gadang. Pohon itu rimbun sekali dan berbuah lebat, rantingnya besar-besar sehingga nyaman untuk di panjat.
Nah, karena sudah bete dirumah dan tidak ada teman yang diajak bermain timbullah niat untuk ambil buah seri itu. Memanjat sebuah pohon bukan perkara sulit bagiku dan teman-teman walaupun perempuan. Aku mulai memanjat dengan tenang hingga sampai diatas pohon itu dan mulai mengambil beberapa buah yang sudah matang. Tak ada kesulitan berarti aku menikmatinya.
Namun, tiba-tiba tepat matahari sedang berada di atas kepala dan sepertinya juga adzan sholat jum’at berkumandang. Entah kenapa aku kehilangan kesimbangan dan jatuh ketanah, juga tidak tanah semua. Waktu itu, ternyata seorang tetangga yang mengambil buah seri juga namun dengan menggunakan galah. Teatangga itu jauh lebih besar dariku sekitar 6-7 tahun lebih tua dariku.
Mendengar cerita dari orang-orang, Uni itu mencob menangkapku saat aku terjatuh namun apa daya tidak bisa juga karena memang tubuhku sudah mulai besar. Aku terjatuh, kepalaku benjol sebesar telur ayam, tangan kiriku kabarnya patah dalam. Namun aku tidak ingat apa-apa lagi setelah jatuh dari pohon itu. Hanya mendengar cerita-cerita dari keluarga maupun tetangga.
Aku juga tidak terlalu ingat apakah aku dibawa ke dokter atau tidak setelah itu. Namun, yang aku tahu tanganku sudah dililit daun sereh agar cepat sembuh. Juga aku dibawa ketukang pijat oleh ayah karena bisa jadi ada bagian lain dari tubuhku yang terluka didalam.
Rumah tukang pijit itu lumayan jauh dari rumah dan harus menyeberangi kali/sungai. Aku selalu digendong ayah saat kesana,  walau kadang air kali itu deras kami tetap lewat sana.
Setelah beberapa waktu aku sembuh, pohon seri itu masih berdiri gagah dengan buahnya yang banyak sekali dan menggodaku untuk mencoba memanjatnya lagi. Kadang memang secara diam-diam aku naik pohon itu, namun ada beberapa teman yang mengadu pada ibu bahwa kau memanjat lagi. Alhasil, aku kena marah dirumah.
Tapi waktu itu, ibu-ibu lagi sibuk di sungai (kolam) mencuci maupun mandi. Ibuku juga disana, saat itulah kesempatanku untuk memanjat pohon itu, namun tidak lama ternyata ibu selesai mandi dan melihatku diatas pohon. Akhirnya aku disuruh turun, tak mempan dengan omelan aku di suruh turun pakai galah dari bawah, maksudnya ibu mengayunkan galah dari bawah ke arahku biar aku cepat turun dan aku turun.
Memang jika selalu ada kesempatan aku dan teman-teman selalu memanjat pohon itu sampai pohon itu tidak ada lagi. Pohon itu ditebang beberapa bulan atau tahun setelah aku jatuh karena ada satu tragedi lagi. Tetanggaku yang rumahnya sangat dengan pohon seri itu hampir mengalami kejadian serupa denganku, namun dia lebih beruntung.
Tetanggaku itu lebih muda sekitar 3-4 tahun dariku, namun karena rumah berdekatan kadang kami juga bermain bersama. Waktu itu, sepertinya juga hari jum’at juga dan siang itu sepi belum ada yang pulang sekolah. Tetanggaku ini, anak seorang guru. Karena dia belum sekolah (sepertinya) jadi dia sendirian dirumah, mungkin karena bete dirumah hanya nonton TV kemudian dia panjatlah pohon seri favorit kami itu.
Tapi, pas tiba diatas pohon dan mungkin sudah mendapatkan beberapa buah tiba-tiba dia bergelantungan saja disana, tak bisa kakinya mencapai sebuah dahan. Aku lupa siapa yang melihatnya pertama kali, namun saat itu semua orang yang berada dalam rumahnya keluar untuk melihat dan membantu tetanggaku itu. Sayangnya waktu itu ia tidak teriak minta tolong seingatku, hanya karena ada orang yang melihat mulailah ia minta tolong.
Untung waktu itu bapak-bapak belum berangkat sholat jum’at saat itu, lalu seorang bapak-bapak memanjat pohon itu dan membawa tetanggaku itu kebawah. Ia sudah pucat pasi, jika saja tak ada yang melihat entah apa jadinya tetanggaku itu. Tak lama setelah kejadian itu, pohon seri favorit kami ditebang, berkuranglah tempat bermain kami. Pelajaran dari kejadian-kejadian itu adalah JANGAN PERNAH MEMANJAT POHON PADA HARI JUM’AT.

Solo Travel : Cara Hemat dari Solok Ke BIM ( Bandara International Minangkabau)

Halo semuanya, akhirnya bisa nulis lagi disini karena baru ada yang mau di posting dan sedang ada niat :D Okey, 2 minggu lalu saya berkesemp...