Beranjak ke memori berikutnya, sekarang saya mau posting kenangan waktu 'Bagadang' di Pantai dewi. Lagi - lagi perempuan yang ikut serta sedikit. Bagadang adalah kegiatan makan bersama, didahului belanja, masak bersama terlebih dahulu. Secara tidak langsung bagadang adalah usaha untuk mempertahankan kehidupan secara bersama-sama. Kalau tidak bersama-sama, itu akan sedikit sulit. (Pengertian saya sendiri. Lebay ya?) Pantai Dewi adalah, sebuah tepian danau bukan tepian laut. Kenapa namanya pantai dewi, konon katanya ada seorang perempuan bernama Dewi yang meninggal di sekitar situ.
Waktu itu kami masak, 'samba buruk' yang biasa di pagadangkan. Karena murah meriah dan gampang dibuat, seperti tahu, kentang, teri, jengkol (bagi yang cowok). Itu digoreng dan dicampur semua dengan cabe giling merah. Tak ada sayur, karena memang tak ada yang terlalu berminat. Paling tambahannya kerupuk, karupuk silungkang. Walaupun sederhana, tapi itu sangat berkesan..:)
Gambar 1. Sebuah Pondok di Pinggir Danau yang jadi 'Basecamp' bagadang kami
Gambar 2. Sebelum dimasak berasnya dicuci dulu
Gambar 3. Karena air di pinggir agak kotor, jadi ambil air yg bersih agak ketengah danau
Gambar 4. Bagaya ciek lu, mangubak kantang harus kamek..:D
Gambar 5.6 Goreng Tahu dengan tungku seadanya dan Naro tahunya juga seadanya. Tak ada piring daun pisangpun jadi
gambar 7. Yes, mari makan... :)
Gambar 8. Tagantuang suok wak dipotoe ju..:(
Gambar 9. Duo Pinyangek, yang beda sahari lahia e ..
Gambar 10. Fikri, Ronald, Irsyad, Fiqri, Seza
gambar 11. Nan karajo, karajo ju. Nan narsis, narsis ju
Setelah dipikir-pikir, budaya bagadang yang sudah ada sejak jaman dulu ini mengajarkan kita untuk bekerja sama dalam melakukan sesuatu. Sekaligus untuk mempererat pertemanan yang ada. Bagi orang yang merantau, hal seperti ini akan selalu dinanti ketika sudah pulang kampung. Bukan karena masakannya, tapi lebih kepada nuansa kekeluargaan yang tercipta saat bagadang itu.


.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar