Sabtu, 26 Januari 2013

Foto : Wajah Lain Jakarta

Semenjak Jakarta banjir, saya jadi tau beberapa tempat Jakarta yang bisa dibilang kumuh. Pertama, Kampung Pulo, Kampung Duri Semanan Kali Deres, dan yang paling kumuh menurut saya adalah di Kali Baru Cilincing Jakarta Utara.



Sumber : Dok. Pribadi

Senin, 21 Januari 2013

Belajar dari Hidup

Banjir besar melanda Jakarta sejak seminggu yang lalu. Pada saat itu saya masih PBL dan belum bisa bantu-bantu tapi udah berniat untuk membantu walau bukan dengan materi. Setidaknya saya bisa menjadi lebih baik dan belajar dari apa yang telah terjadi. Membantu korban banjir dan mereka membantu saya untuk belajar. 
Sabtu, 19 Januari 2013 setelah menyelesaikan FGD PBL 1 di Kelurahan Pondok Aren sampai siang. Sorenya setelah sampai di Ciputat saya langsung berangkat ke Pimpinan Pusat Muhammadiyah Menteng.
Inisiatif ikut menjadi relawan banjir, memang dari saya sendiri. Mencari tahu dan menghubungi orang di PP Muhammadiyah yang saya kenal untuk mendapatkan informasi lebih jauh. Bukan dari organisasi yang ada di Ciputat.
Memang, sebelum berangkat ke Menteng saya menghubungi salah satu kader nya untuk mencari tahu apakah ada orang yang ikut apa tidak agar saya bisa bareng ke Menteng nya.
Setelah sampai di Menteng, ternyata memang udah ada anak Ciputat yang disana. Magrib saya sampai disana setelah bertemu koordinator MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Centre) sekitar setengah 9 malam balik lagi ke Ciputat untuk ambil barang-barang keperluan selama sekitar 2 minggu di lokasi bencana. Jam 11 malam balik lagi ke Menteng.
Pembagian tim kerja tiap posko awalnya berlangsung baik, santai dan menerima apa yang ditugaskan oleh koordinator mdmc. Namun belakangan muncul keegoisan beberapa orang, yang ingin memilih teman-teman timnya sendiri. Saya berfikir, ini orang niat mau bantu korban bencana aja milih-milih temen. Menganggap orang yang tidak dikenalnya dengan baik sebagai orang yang individual. Dari itu saya bisa melihat mereka bukan orang profesional dalam tim. Dalam bencana, keegoisan harus dibuang karena memang harus fokus pada tujuan membantu orang lain. Saya bukan bijak atau pandai, hanya berusaha menempatkan diri dan sikap sesuai tempatnya.
Memang setiap orang punya keegoisan,  misi , dan pandangan tersendiri untuk orang lain. Namun, sifat saya tidak bisa menerima pandangan itu tanpa alasan. Kenapa tidak disampaikan secara langsung, bagi saya hanya pengecut yang berperilaku seperti itu.
Saya mencoba berubah, dari seorang Hervina yang keras kepala, egois untuk menjadi lebih baik. Berusaha belajar sabar dan ikhlas untuk apa yang terjadi dan mengambil pelajaran darinya. Berubah menjadi lebih baik memang tak mudah, banyak orang diluar sana yang tidak mengerti tapi sok mengerti, sok tau padahal tidak tau. 
Bagi saya, mengalah bukan berarti kalah. Pandangan buruk orang lain terhadap kita merupakan cambuk diri agar menjadi lebih baik. Be Positive Be Healthy.
Aku tak mau banyak pikiran, aku tak mau sakit. Kata Pak Habibie jika ornag lain menghinamu atau menilaimu buruk berarti dia memperhatikanmu, sedangkan kamu tak sedetikpun memperhatikan dia.
Memang belajar yang baik untuk kehidupan itu dari jalan hidup itu sendiri. Nikmati dinamika kehidupan yang ada.

Jumat, 18 Januari 2013

Bantuan Bencana, Jangan Mie Instan....

Banjir Jakarta masih terjadi, mungkin ada kesurutan dibeberapa wilayah. Semakin banyak warga yang mengungsi, semakin banyak bantuan yang diberikan. Baik dari makanan, pakaian dan lain-lain.
Namun kebiasaan di Indonesia jika ada bencana, selalu mie instan jadi makanan andalan dengan alasan praktis. Padahal sangat tidak baik bagi kesehatan, apalagi bagi warga yang mengungsi. Para pengungsi akan mudah menurun daya tahan tubuhnya baik karena cuaca, psikologisnya terganggu dan lain-lain. 

Maka sangat tidak baik dan bijak rasanya jika memberikan bantuan berupa mie instan dengan alasan seperti itu, karena masih banyak makanan lain yang praktis dan jauh lebih bermanfaat dan bergizi. Contohnya Ubi rebus, Jagung rebus, Pisang rebus akan lebih bermanfaat bagi kesehatan para pengungsi dibandingkan dengan mie rebus. Beras direbus juga bisa. Sama-sama direbuskan?

 Niatnya menolong tapi sayang kurang optimal, malah nanti ada yang mudah sakit karena makanan murah itu. Kalau makannya satu kali sehari masih bisa ditoleransi, tapi terkadang biasanya selama pengungsian bisa-bisa hampir setiap hari makan mie instannya. Kasihan pengungsinya kan?

Untuk itu, marilah kita merubah hal yang buruk itu. Memberikan bantuan yang berdampak baik pada kesehatan mereka bukan hanya untuk menghilangkan rasa lapar mereka.

Jumat, 11 Januari 2013

PBL 1 #Part2

Jum'at, 12:27 AM saya dan beberapa teman masih terjaga. Ada yang sibuk nonton, ada yang ngerjain tugas, ada yang persipan tidur bikin susu dulu sekalian saya nebeng air panasnya buat bikin teh hijau dan satu lagi udah tidur mungkin udah mimpi pulang kerumahnya . hehe
Belum ngantuk dan belum ada niatan untuk tidur karen aseharian tadi kami tidak produktiv sama sekali, karena kuesioner sudah lengkap jadi yang kami kerjakan hanya input data yang diperoleh ke Epi Data kalo udah selesai lalu di export ke Spss.

3 Film dituntaskan hari ini, pertama #Silenced, film korea yang berkisah tentang pelecehan seksual yang terjadi di sekolah Tuna Rungu disalah satu kota/desa di Korea Selatan. Yang melakukan pelecehan adalah kepala sekolah, kepala admin dan guru sekolah tersebut. Yang Jadi korban adalah murid-murid mereka yang tidak punya orang tua atau yang orangtuanya terbelakang mental.  Kepala sekolah dan kepala admin merupakan saudara kembar identik seklaigus pemilik sekolah yang diwariskan dari orang tuanya. Tapi sayang mungkin mereka punya kelainan sehingga melakukan hal bodoh kepada anak-anak, Pedofil kalo ga salah nama perilaku itu. 

Sedih, marah dan kasihan kalo nonton film ini, kekuasaan, uang masih saja yang menang. Filmnya diangkat dari kisah nyata, kasus pelecehan dibawa ke meja hijau dengan hukuman yang tidak setimpal. Kasusnya tahun 2005 atau kapan lupa jadinya karena kebanyakan nonton dan akhirnya ditutup pada tahun 2011. Entah sekolah tersebut masih buka atau tidak.

kedua, The Vow menceritakan tentang cintanya seorang suami kepada istrinya walaupun istrinya lupa ingatan, tidak ingat sama sekali dengan hubungan mereka tapi tetap sang suami mencintainya dan melakukan yang terbaik untuk istrinya agr istrinya bahagia.

ketiga, yang baru selesai barusan yaitu film Thailand judulnya Bangkok Traffic Love Story. Ceritanya tentang seorang perempuan yang udah kepala tiga tapi belum juga da pasangan. Nah, tiba-tiba ketemu ama cowok cakep ceritanya jatuh cinta pada pandangan pertama gitu. Terus tanpa sengaja ketemu dirumah karena dipanggil ayahnya si cewek. Terus si cewek deketin tapi ga agresif dengan sabar dia akhirnya deket dan ternyata si cowok juga suka. Tapi sayangnya ditinggal ke Jerman 2 tahun. Tapi akhirnya ketemu lagi dan happy ending. TAMAT

Beralih ke topik lain, Berlima satu kontrakan merupakan hal yang baru bagi saya. Rame, dengan berbagai karakter. Ada yang rajin ada yang malas, walaupun udah bagi tugas tetep aja yang ngerjain itu-itu aja orangnya. Namun, semuanya tetap pelajaran. Harus mengimbangi keadaan jangan sampai ada ketimpangan yang membuat perselisihan. Tapi untung semuanya baik-baik, tidak neko-neko, anak-anak yang bukan liar. Tidak pernah keluar malam. 

 O ya, sekarang PBL hari kesembilan kerjaan kami tinggal input data. Karena fokus kasus kami TBC jadi yang kami duga penderita TBC dan belum pernah melakukan pengobatan kami ambil dahaknya untuk diperiksa di laboratorium untuk membuktikan dia TB BTA Psoitiv atau tidak. Jijik memang, ngumpulin dahak orang yang kalau dia memang positiv bisa menularkan penyakitnya ke kami. Tapi itu resiko, kalo ga berani menghadapi resiko ga usah ikut PBL lah..... TBC di Tangerang Selatan mencapai 637 kasus selama tahun 2012, banyak banget. Miris, kasihan dan prihatin dengan semuanya.

Oke, masih terjaga semua. Yang tadi tidur udah bangun. Teh hijau pun siap diseduh dan saya bingun mau nulis apa selain ini. Karena referensinya belum ada. -_-

Rabu, 09 Januari 2013

PBL 1

Langit sedari malam tak henti menghujani wilayah Jakarta dan sekitarnya. Jemuran tak kunjung kering, tidurpun tak beraturan, bangun tidur, tidur lagi karena tak ada yang bisa dilakukan diluar rumah. Nafsu makanpun meningkat tapi sayangnya makan yang tidak sehat, mie ramen.-_-

Sekarang, pas waktu dzuhur untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya langit mungkin sudah lelah menurunkan kandungannya. Juga memberi kesempatan bagi penghuni bumi untuk beraktifitas normal lagi. 

Seminggu sudah kami berlima mendiami kontrakan ini, bangunan dempet dengan 3 kotak ke belakang lengkap dengan kamar mandinya yang menurut kami tidaklah sangat baik dan sehat. Kalau bukan karena PBL (Pengalaman Belajar Lapangan) yang diwajibkan kampus mungkin kami tak akan pernah berdiam di daerah ini, Pondok Aren Tangerang Selatan.

Memang bukan daerah tertinggal dan terbelakang serta tak jauh dari kota besar, namun walau bagaimanapun tetaplah tempat yang biasa kita diami yang nyaman. Beradaptasi dengan lingkungan yang baru, orang baru dengan perilaku yang berbeda-beda.

Kami berlima dengan latar belakang yang berbeda, perilaku dan asal yang berbeda. Saya, Dita dan Febri (ibunya orang Pariaman , Ayahnya betawi kayaknya) berasal dari Minangkabau; Harun, Ana dan Randi dari Palembang Wong kito galo.. hehe  sedangkan Fitri keturunan Jawa yang dibesarkan di Jakarta, Depok sih tepatnya bukan Jakarta ya.. :D Lalu Mawar keturunan Sunda-Jawa yang besar di Jakarta.

Dari segi asal saja, bisa kita lihat sekilas bagaimana karakter masing-masing. Orang Sumatera cenderung lebih keras dan tegas, orang jawa lebih nrimo dan nurut. Karena kebanyakan orang Sumatera jadi konflik lebih sering terjadi walau bisa diselesaikan dengan baik. Banyak sikap yang bisa dilihat,ada orang yang tidak percaya dengan kemampuan temannya sendiri, ingin mengerjakan semua sendiri, suka ngatur-ngatur tapi ga mau kerja, ada yang seenaknya aja. Kalau kata dosen itulah namanya dinamika kelompok.

Ya memang, berbagai macam perilaku bisa membuat kita mengetahu sifat kita sebenarnya dan belajar dari sifak buruk dan baik orang lain. 

Oke lanjut lagi, barusan dari puskesmas untuk konsultasi hasil yang kita dapat selama mendatangi masyarakat dan nanya-nanya status kesehatannya. Kirain udah bener ternyata masih banyak yang harus dibenerin dandilengkapin, kata kepala puskesmasnya kalian kurang cerdas. #jleb banget. Namanya juga baru turun lapangan 1x dok. ckckck

Sebenarnya bukan salah sih, hanya kami tergesa-gesa untuk melaporkan apa yang kami temui. Untuk hal pertama yang kami lakukan memang kuantitatif dulu, seberapa banyak warga yang terduga TB atau sudah menjadi penderita TB setelah data terkumpul dipisahkan mana yang terduga TB dengan yang tidak. Baru kemudian lanjut ke penelitian kualitatif, dengan wawancara mendalam untuk mengetahui lebih jauh responden yang terduga TB tersebut. Lalu dibawa deh ke puskesmas untuk diperiksa. Tapi karena kami tergesa-gesa ya gitu deh, diceramahin dulu ama kepala puskesmasnya.

Tapi itulah hidup, harus ada yang mengingatkan dan menasehati kita agar bisa lebih baik dan kita tidak keluar jalur yang ditentukan juga agar kita tidak jadi sok pintar sok tahu dan sok yang tidak baik lainnya.

Selasa, 08 Januari 2013

Kasus Tuberkulosis Paru di Tangerang Selatan

Kesehatan merupakan hal yang sangat penting  dalam kehidupan. Namun sayangnya, masih ada masalah kesehatan yang terabaikan atau belum  maksimal dituntaskan. Kemiskinan, pendidikan rendah,pengetahuan kurang memberi kontribusi terhadap meningkatnya masalah kesehatan yang ada khususnya di Indonesia.
Ditengah hiruk pikuk kota, gemerlap kehidupan orang kota disisi-sisi mereka terdapat kehidupan yang sangat berlawanan. Si kaya dan si miskin, si pendidikan tinggi dan si pendidikan rendah. banyak sekali ditemui di negeri ini.
Pondok Aren merupakan salah satu kecamatandan kelurahan yang ada di Tangerang Selatan, walau lumayan jauh dai pusat kota Jakarta namun sangat dekat Bintaro. Kita tau sendirilah Bintaro seperti apa.
Selama berada di Pondok Aren, berkoordinasi dengan pihak Puskesmas, saya dan teman-teman melakukan penelitian tentang  masalah kesehatan yang ada di wilayah kerja puskesmas yaitu Pondok Aren dan Pondok Jaya. Walau penyakit tertinggi yang ditangani puskesmas adalah ISPA tapi tingkat keparahanyya tidak besar, namun ada penyakit-penyakit yangparah dan menular.
Seperti TB paru, bisa dimasukkan dlamkatogori penyakit yang banyak ada di puskesmas. Yang ditangani puskesmas disini saja sudah 46 orang , mereka yang sudah positiv TB BTA positiv. 46 orang itu sudah banyak, belum lagi yang terlapor dan tercatat di puskesmas. Padahal kita tau sendiri, TB Paru sangat  mudah menular, hanya dari bersin/batuk penderita bisa menularkan ke orang lain.
Yang saya lihat disini, juga berdasarkan data dari kelurahan dan puskesmas masyarakat disekitar sini memang dalam kategori ekonomi menengah kbawah dan pendidikan menengah kebawah. Ada rumah yang tanpa jendela dan ventilasi sehingga matahari tidak bisa masuk, ada rumah yang sangat kecil sekali, ada rumah yang sangat padat isinya. hal-hal ini sangat meningkatkan kasus TB paru masih ada sampai sekarang.
Memang Provinsi Banten merupakan no 4 di Indonesia dengan kasus Tb Parunya. Namun sangat miris rasanya ketika kasus itu berada di wilayah yang sangat dekat dengan kota, pemerintahan. Tapi itulah relaita kehidupan yang sebenarny bisa dihindari.
lalu apa peran tenaga kesehatan yang ada? puskesmas? pemerintah? Sebenarnya sudah ada program nasional penanggulangan TB Paru oleh pemerintah, mungkinkarena kurang SDM dan perhatian jadi kurang maksimal programnya.
Mencari kasus TB Paru relatif lebih gampang daripada mencegahnya. Saya dan teman-teman sudah menemukan beberapa kasus baru didaerah ini, namun masih bingung program apa yang bisa mencegah kasus ini semakin bertambah. Ada program yang sangat bagus dan berkelanjutan namun sangat butuh dana banyak. Untuk penyuluhan kesehatan pasti dilakukan, dimulai dari memberi pengetahuan kepada masyarakat tentang pentingnya kesehatan sehingga mereka bisa mengubah perilaku tida sehat menjadi sehat.
apa yang sebaiknya kami lakukan agar kasus ini segera hilang?

Solo Travel : Cara Hemat dari Solok Ke BIM ( Bandara International Minangkabau)

Halo semuanya, akhirnya bisa nulis lagi disini karena baru ada yang mau di posting dan sedang ada niat :D Okey, 2 minggu lalu saya berkesemp...