Langit sedari malam tak henti menghujani wilayah Jakarta dan sekitarnya. Jemuran tak kunjung kering, tidurpun tak beraturan, bangun tidur, tidur lagi karena tak ada yang bisa dilakukan diluar rumah. Nafsu makanpun meningkat tapi sayangnya makan yang tidak sehat, mie ramen.-_-
Sekarang, pas waktu dzuhur untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya langit mungkin sudah lelah menurunkan kandungannya. Juga memberi kesempatan bagi penghuni bumi untuk beraktifitas normal lagi.
Seminggu sudah kami berlima mendiami kontrakan ini, bangunan dempet dengan 3 kotak ke belakang lengkap dengan kamar mandinya yang menurut kami tidaklah sangat baik dan sehat. Kalau bukan karena PBL (Pengalaman Belajar Lapangan) yang diwajibkan kampus mungkin kami tak akan pernah berdiam di daerah ini, Pondok Aren Tangerang Selatan.
Memang bukan daerah tertinggal dan terbelakang serta tak jauh dari kota besar, namun walau bagaimanapun tetaplah tempat yang biasa kita diami yang nyaman. Beradaptasi dengan lingkungan yang baru, orang baru dengan perilaku yang berbeda-beda.
Kami berlima dengan latar belakang yang berbeda, perilaku dan asal yang berbeda. Saya, Dita dan Febri (ibunya orang Pariaman , Ayahnya betawi kayaknya) berasal dari Minangkabau; Harun, Ana dan Randi dari Palembang Wong kito galo.. hehe sedangkan Fitri keturunan Jawa yang dibesarkan di Jakarta, Depok sih tepatnya bukan Jakarta ya.. :D Lalu Mawar keturunan Sunda-Jawa yang besar di Jakarta.
Dari segi asal saja, bisa kita lihat sekilas bagaimana karakter masing-masing. Orang Sumatera cenderung lebih keras dan tegas, orang jawa lebih nrimo dan nurut. Karena kebanyakan orang Sumatera jadi konflik lebih sering terjadi walau bisa diselesaikan dengan baik. Banyak sikap yang bisa dilihat,ada orang yang tidak percaya dengan kemampuan temannya sendiri, ingin mengerjakan semua sendiri, suka ngatur-ngatur tapi ga mau kerja, ada yang seenaknya aja. Kalau kata dosen itulah namanya dinamika kelompok.
Ya memang, berbagai macam perilaku bisa membuat kita mengetahu sifat kita sebenarnya dan belajar dari sifak buruk dan baik orang lain.
Oke lanjut lagi, barusan dari puskesmas untuk konsultasi hasil yang kita dapat selama mendatangi masyarakat dan nanya-nanya status kesehatannya. Kirain udah bener ternyata masih banyak yang harus dibenerin dandilengkapin, kata kepala puskesmasnya kalian kurang cerdas. #jleb banget. Namanya juga baru turun lapangan 1x dok. ckckck
Sebenarnya bukan salah sih, hanya kami tergesa-gesa untuk melaporkan apa yang kami temui. Untuk hal pertama yang kami lakukan memang kuantitatif dulu, seberapa banyak warga yang terduga TB atau sudah menjadi penderita TB setelah data terkumpul dipisahkan mana yang terduga TB dengan yang tidak. Baru kemudian lanjut ke penelitian kualitatif, dengan wawancara mendalam untuk mengetahui lebih jauh responden yang terduga TB tersebut. Lalu dibawa deh ke puskesmas untuk diperiksa. Tapi karena kami tergesa-gesa ya gitu deh, diceramahin dulu ama kepala puskesmasnya.
Tapi itulah hidup, harus ada yang mengingatkan dan menasehati kita agar bisa lebih baik dan kita tidak keluar jalur yang ditentukan juga agar kita tidak jadi sok pintar sok tahu dan sok yang tidak baik lainnya.
Di tunggu BPL selanjutnya :D
BalasHapus