Banjir besar melanda Jakarta sejak seminggu yang lalu. Pada saat itu saya masih PBL dan belum bisa bantu-bantu tapi udah berniat untuk membantu walau bukan dengan materi. Setidaknya saya bisa menjadi lebih baik dan belajar dari apa yang telah terjadi. Membantu korban banjir dan mereka membantu saya untuk belajar.
Sabtu, 19 Januari 2013 setelah menyelesaikan FGD PBL 1 di Kelurahan Pondok Aren sampai siang. Sorenya setelah sampai di Ciputat saya langsung berangkat ke Pimpinan Pusat Muhammadiyah Menteng.
Inisiatif ikut menjadi relawan banjir, memang dari saya sendiri. Mencari tahu dan menghubungi orang di PP Muhammadiyah yang saya kenal untuk mendapatkan informasi lebih jauh. Bukan dari organisasi yang ada di Ciputat.
Memang, sebelum berangkat ke Menteng saya menghubungi salah satu kader nya untuk mencari tahu apakah ada orang yang ikut apa tidak agar saya bisa bareng ke Menteng nya.
Setelah sampai di Menteng, ternyata memang udah ada anak Ciputat yang disana. Magrib saya sampai disana setelah bertemu koordinator MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Centre) sekitar setengah 9 malam balik lagi ke Ciputat untuk ambil barang-barang keperluan selama sekitar 2 minggu di lokasi bencana. Jam 11 malam balik lagi ke Menteng.
Pembagian tim kerja tiap posko awalnya berlangsung baik, santai dan menerima apa yang ditugaskan oleh koordinator mdmc. Namun belakangan muncul keegoisan beberapa orang, yang ingin memilih teman-teman timnya sendiri. Saya berfikir, ini orang niat mau bantu korban bencana aja milih-milih temen. Menganggap orang yang tidak dikenalnya dengan baik sebagai orang yang individual. Dari itu saya bisa melihat mereka bukan orang profesional dalam tim. Dalam bencana, keegoisan harus dibuang karena memang harus fokus pada tujuan membantu orang lain. Saya bukan bijak atau pandai, hanya berusaha menempatkan diri dan sikap sesuai tempatnya.
Memang setiap orang punya keegoisan, misi , dan pandangan tersendiri untuk orang lain. Namun, sifat saya tidak bisa menerima pandangan itu tanpa alasan. Kenapa tidak disampaikan secara langsung, bagi saya hanya pengecut yang berperilaku seperti itu.
Saya mencoba berubah, dari seorang Hervina yang keras kepala, egois untuk menjadi lebih baik. Berusaha belajar sabar dan ikhlas untuk apa yang terjadi dan mengambil pelajaran darinya. Berubah menjadi lebih baik memang tak mudah, banyak orang diluar sana yang tidak mengerti tapi sok mengerti, sok tau padahal tidak tau.
Bagi saya, mengalah bukan berarti kalah. Pandangan buruk orang lain terhadap kita merupakan cambuk diri agar menjadi lebih baik. Be Positive Be Healthy.
Aku tak mau banyak pikiran, aku tak mau sakit. Kata Pak Habibie jika ornag lain menghinamu atau menilaimu buruk berarti dia memperhatikanmu, sedangkan kamu tak sedetikpun memperhatikan dia.
Memang belajar yang baik untuk kehidupan itu dari jalan hidup itu sendiri. Nikmati dinamika kehidupan yang ada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar