Senin, 18 Agustus 2014

Saniangbaka : Negeri Serpihan Surga

Tak akan ada habisnya jika menceritakan keindahan negeri ini, setidaknya bagi saya pribadi. Negeri yang memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Tak perlu jauh ke luar negeri untuk memanjakan mata, negeri ini sudah lebih dari cukup mewakili kekuasaan-Nya. Lagi, negeri serpihan surga ini membuatku semakin jatuh cinta, negeri ini kampungku, tanah kelahiran dan tempat menghabiskan seluruh hidup ini nantinya.
Kesempatan pulang kampung untuk kedua kalinya ditahun 2014 ini tidak saya sia-siakan begitu saja. Kembali menjelajah keindahan negeri ini, beruntung sekali pada saat itu cuaca hampir setiap hari cerah walau dengan panas yang sangat menyengat. Namun hal itu tak jadi masalah, akan sangat sayang sekali jika pulang kampung hanya dirumah saja. 
Disuatu siang, saya bersama Rendy Febrianto (lah masuk an namoe a :D ) dan uninya, Siska Alfionita pergi ke daerah perbukitan di Saniangbaka. Saya kurang tau nama-nama tempat di perbukitan itu, tapi kami naik dari Palo Banda, melewati jalan baru dibuka baru-baru ini. Jalan tersebut sudah lumayan bagus jadi jika cuma punya motor matic juga masih bisa kesana, kami kesana pakai motor matic karena ga punya motor yang gede-gede buat ke ladang itu atau buat offroad.

Sebelumnya saya juga pernah kesini, awal tahun kemarin bersama beberapa teman. Berbekal ingatan itu, saya memandu perjalanan namun karena ada perubahan-perubahan dan banyak simpang-simpang kami tidak sampai di tujuan :D. Ada peristiwa lucu saat kami kesana, saat mencoba melewati jalan yang lain karena tidak sampai juga ditujuan kami melewati sebuah jalan yang terhalang oleh kayu-kayu dan sampah-smapah sehingga tidak bisa dilewati. Di bagian atas jalan tersebut ada sebuah Excavator yang sedang membersihkan lahan, di saat kami mencoba membersihkan jalan untuk kami lewat dan mencoba melewati kayu-kayu tersebut. Tiba-tiba excavator itu menuju tempat kami, seketika kami panik berusaha mundur tapi tidak teratur. Ni Siska langsung tancap gas menjauh dari tempat tersebut. Setelah excavator itu lumayan dekat, barulah kami mengetahui bahwa niat orang yang menjalankan itu baik yaitu memindahkan kayu-kayu yang berserakan dijalanan itu agar kami bisa lewat. 
Akhirnya kami bisa lewat, kebetulan saat itu ada seorang bapak yang hendak pergi ke ladangnya atau kemana. Karena melihat kami agak sedikit kebingungan, kami bertanya kepada bapak tersebut tentang tujuan kami dan si Bapak yang baik itu menunjukkan kami jalannya bahkan mengantar kami kesana. Walaupun kami tersesat, tapi itu juga anugerah karena pemandangannya tidak akan membuat menyesal. Kami tersesat dijalan yang indah :D

Disanalah kami tersesat, indah bukan? Jalan itu menuju Pinang, kalau mau pulang bisa lewat sana. Tapi karena kami bukan mau pulang, kami balik lagi mencari jalan yang lain. Berhubung ini perbukitan banyak sekali pendakian, jalannya masih tanah merah sehingga membuat kami tidak bisa mendaki, surut ke belakang dan akhirnya kami cari jalan lain juga. 
Balik lagi, setelah diantar bapak yang baik hati itu kami sampai ditempat yang sebelumnya saya belum pernah kesana. Kami melewati sebuah villa tingkat dua yang besar dan bagus, milik seorang Datuk di Saniangbaka. Sebelum sampai di villa tersebut kami melewati turunan yang cukup berbahaya bagi kami, berkerikil pula alhasil saya hampir jatuh dan ditertawakan oleh Ni Siska dan Rendy karena saking paniknya.
Negeri ini sangat berpotensi menjadi tempat wisata karena pemandangannya yang sangat indah, apalagi sekarang banyak yang membuat rumah/pondok diperbukitan sana. Tapi, secara pribadi jika ini dikembangkan menjadi tempat wisata untuk umum, saya tidak mendukung. Semua orang juga tahu, tempat wisata dimanapun sangat rentan menjadi tempat maksiat. Selain itu, akan terjadi kerusakan hutan karena bisa jadi orang akan berfikir akan lebih banyak dan cepat uang masuk jika lahannya dijadikan tempat wisata. Hijaunya perbukitan akan hilang sedikit demi sedikit hanya karena materi.

 Menjadikan negeri ini sebagai tempat wisata umum memang sangat mungkin sekali melihat keindahannya tersebut, sekaligus bisa meningkatkan ekonomi masyarakat. Namun, apalah artinya ekonomi masyarakat meningkat namun negeri kita dijadikan tempat maksiat. Tapi jika negeri ini benar dijadikan tempat wisata harus ada komitmen yang kuat antara pemerintah nagari, pengembang wisata, masyarakat dan pelancong yang akan berkunjung untuk benar-benar menjaga keindahan ini dari hal-hal yang melanggar syari'at.



Sumber Foto : Dokumentasi Pribadi

Sabtu, 16 Agustus 2014

Pertama kali ke Air Terjun Aia Angek Saniangbaka, Kab. Solok


          Segala puji bagi Allah yang menciptakan alam semesta dengan begitu indahnya. Alhamdulillah juga saya lahir dan dibesarkan di sebuah negeri “serpihan surga”, ya negeriku laksana surga yang tercecer dari tempat  yang seharusnya. Negeri ini (di Minangkabau di sebut Nagari) bernama Nagari Saniang Baka di Kecamatan X Koto Singkarak Kabupaten Solok Provinsi Sumatera Barat. Di kelilingi perbukitan yang hijau, sawah yang menguning jika musim panen tiba dan danau singkarak yang cantik sekali. Waktu tempuh dari Bandara Internasional Minangkabau (BIM) menuju negeri ini sekitar 2 jam, dari Kota Solok sekitar 30 menit menggunakan angkutan umum. Jika dari Kota Bukit Tinggi membutuhkan waktu sekitar 90 menit untuk sampai ke desaku ini. Tidak cukup jauh bukan? :D

Di negeriku ini terdapat dua buah air terjun, dulu saya biasanya pergi ke air terjun pinang. Pinang disini bukan nama buah atau semacamnya, tapi satu tempat disini. Air terjun pinang ini tersembunyi di sela-sela perbukitan, untuk kesana kita harus melewati persawahan, kali dengan batu yang besar-besar dan semak belukar. Air terjun pinang cukup tinggi dan airnya bersih, sangat cantik. Siapapun yang kesana akan jatuh cinta. Tapi, saat pulang kampung kemarin seorang teman, namanya Rendy Febrianto mengajak ke air terjun yang jarang sekali orang kesana di hutan kampungku, di sekitar daerah Aia Angek namanya.

Pada 31 Juli 2014, kami pergi berenam orang, 4 orang laki-laki dan 2 orang perempuan. waktu itu beruntung sekali bisa kesana saat cuaca sedang cerah. Untuk kesana dari rumah kami harus pakai motor terlebih dahulu, perjalanan dengan motor dibutuhkan waktu sekitar setengah jam. Namun itu belum sampai ditujuan, kita harus memarkir motor didekat rumah seorang warga yang tinggal disana. Jangan bosan dengan perjalanan menuju kesana, karena selama perjalanan dengan motor kita akan disuguhi pemandangan yang sangat indah. Perbukitan yang hijau, langit biru, danau singkarak, gunung merapi, dan lain-lain. Namun akses menuju kesana memang belum terlalu bagus, jadi harus berhati-hati dalam mengendarai motor.


Setelah parkir motor kita akan berjalan kaki menuju air terjun sekitar 10-15 menit, sangat dekat. Lagi, kita akan disuguhi pemandangan yang luar biasa. Kita akan melewati sawah penduduk, berjalan lewat pematang sawah, melewati sungai-sungai kecil yang airnya sangat jernih. Tapi, ada sedikit tantangan kesana, kita harus berjalan diatas paralon sebuah proyek irigasi atau mencari jalan dibawahnya di semak-semak. Proyek itu belum selesai jadi bagi yang bisa melewati paralon untuk menuju air terjun, tapi tak masalah bagi kami. Kami sangat bersemangat apalagi jika gemiricik air mulai terdengar. Namun, jika mengajak banyak wanita sepertinya akan ribet :D

Yeay, akhirnya kita sampai di air terjun aia angek ini dan aku langsung jatuh cinta. Indah sekali, airnya jernih dan dingin. Ada surga tersembunyi di negeriku, mungkin dulu bidadari mandi disini :D. Memang air terjun tidak begitu tinggi, tapi jika diperhatikan air terjun ini seperti bertingkat-tingkat sehingga terlihat sangat cantik. Kita akan betah berlama-lama disini karena sangat sejuk dan damai sekali. O ya, jangan lupa kalau kesini bawa perbekalan secukupnya, waktu itu kami beli nasi bungkus karena tidak banyak persiapan.

Untuk pulang kampung selanjutnya, saya berharap bisa menjelajah lebih jauh lagi, menikmati keindahan alam negeri sendiri. Katanya ada satu air terjun lagi, semoga ada jalan menuju sana.

Sumber Foto : Dokumentasi Pribadi
Nb: Air Terjun ini belum ada namanya atau mungkin saya yang tidak tau namanya. Tapi saya menyebutnya Aia Tajun Batingkek Aia Angek. Bagi yang tau namanya silakan diberitahu.

Solo Travel : Cara Hemat dari Solok Ke BIM ( Bandara International Minangkabau)

Halo semuanya, akhirnya bisa nulis lagi disini karena baru ada yang mau di posting dan sedang ada niat :D Okey, 2 minggu lalu saya berkesemp...