Pada bulan Februari 2013, saya
berkesempatan pulang ke kampung halaman di Nagari Saniang Baka Kecamatan X Koto
Singkarak Kabupaten Solok Provinsi Sumatera Barat. Setelah 2,5 tahun menetap di
negeri orang akhirnya ada kesempatan juga walau hanya seminggu. Tak banyak
perubahan yang saya lihat selama itu, memang ada yang berubah, suasana kampung
lebih lengang dan jalan-jalan utama maupun jalan-jalan kecil dikampung banyak
yang rusak serta lahan-lahan kosong yang berubah menjadi semak ataupun pandam
pekuburan yang tak terawat.
Secara geografis Nagari Saniang Baka
terletak di jajaran Bukit Barisan, di tepi Danau Singkarak. Jika dilihat dari
udara wilayah Saniang Baka ini berbentuk melingkar ada 2 sungai yang membelah
Nagari ini yang biasa disebut Tangaya dan Tangaya Aia Rabang. Kehidupan
masyarakat pada umumnya adalah bertani baik ke sawah maupun ke ladang, ada juga
yang menjadi nelayan danau, pedagang dan hanya sedikit yang menjadi pegawai
swasta maupun pemerintahan.
Setiap Nagari di Minangkabau
dikepalai oleh seorang Wali Nagari, kalau di kota mungkin disebut Lurah. Dalam
Nagari dibagi menjadi beberapa jorong kalau di kota disebut RT/RW, di Saniang
Baka sendiri ada sekitar 10 jorong yang dikepalai oleh Wali Jorong. Dalam
Jorong tersebut biasanya dihuni oleh orang yang masih sesuku atau beberapa
suku. Suku di Saniang Baka ada sekitar 10 suku juga.
Sekarang, hampir setahun setelah
pulang kampung kemaren saya berkesempatan lagi pulang tapi dengan waktu lebih
lama. Sekitar 2 bulan saya akan tinggal di Sumatera Barat karena berkesempatan
magang di PT. Semen Padang selama 1 bulan dan 1 bulan selanjutnya menikmati
kampung halaman.
Disela-sela waktu magang, setiap
weekend jika tidak ada kegiatan saya selalu pulang ke Saniang Baka. Masih saja
tak ada perubahan berarti yang terlihat, ada perubahan tapi lebih kepada
perubahan yang buruk. Perubahan yang sangat jelas terlihat yaitu jalan utama
kampung yang semakin buruk dan rusak. Selepas dari Sumani kita akan disambut
oleh persawahan yang hijau dan gapura Saniang Baka, rasanya jalan menuju
kampung semakin sempit saja. Apalagi jika kita berlawanan arah dengan truk –
truk yang membawa material, hampir semua jalan dipakainya seolah kita hanya
menumpang jalan saja dijalan kita sendiri apalagi jika sopirnya ngebut.
Sampai di Palolabuh dekat Puskesmas,
saya disambut oleh jalan yang rusak padahal tahun sebelumnya tidak. Katanya ada
polongan/saluran air dibawah jalan pecah sehingga menyebabkan jalan rusak. Saya
ke kampung tanggal 11 Januari 2014 ketika jalan itu sudah rusak, sampai kemarin
(2 februari 2014) saya terakhir dikampung jalan tersebut masih belum kembali
normal. Selain itu jalan di daerah Tanjuang, depan gedung yang dulunya BPR juga
rusak, menurut saya itu sebenarnya sudah tak layak dilalui.
Tak jauh berbeda dengan jalan di sebelum
tanjakan Balai Lalang, jalan juga sudah rusak dan sangat berisiko jika dilalui
kendaraan. Banyak lagi jalan-jalan utama Saniang Baka yang rusak, namun yang
paling menyedihkan adalah jalan ke arah Pila sudah seperti jalan ke Ladang.
Selain rusak (tidak rata dan berlubang) juga banyak material yang berserakan
dijalan yang bisa meningkatkan resiko kecelakaan. Selain itu, jalan menuju
palobanda juga semakin buruk, sangat tidak nyaman kesana apalagi kalau pakai
motor matic. Walau pemandangan kesana bagus tapi kalau aksesnya susah orang
juga tak berminat kesana.
Walaupun jalan-jalan yang buruk itu,
ada satu yang membuat saya sangat tertarik yaitu dibangunnya jalan dari Tampat menuju
Pinang. Sebagian jalan sudah dicor namun sebagian lainnya belum, namun bisa
dilalui dengan cukup baik. Jika kita melewati jalan tersebut kita akan melihat
indahnya nagari Saniang Baka dan danau singkarak, kalau cuaca cerah kita akan
melihat indahnya Gunung Marapi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar