Minggu, 09 Maret 2014

Saniang Baka 2014



Pada bulan Februari 2013, saya berkesempatan pulang ke kampung halaman di Nagari Saniang Baka Kecamatan X Koto Singkarak Kabupaten Solok Provinsi Sumatera Barat. Setelah 2,5 tahun menetap di negeri orang akhirnya ada kesempatan juga walau hanya seminggu. Tak banyak perubahan yang saya lihat selama itu, memang ada yang berubah, suasana kampung lebih lengang dan jalan-jalan utama maupun jalan-jalan kecil dikampung banyak yang rusak serta lahan-lahan kosong yang berubah menjadi semak ataupun pandam pekuburan yang tak terawat.
Secara geografis Nagari Saniang Baka terletak di jajaran Bukit Barisan, di tepi Danau Singkarak. Jika dilihat dari udara wilayah Saniang Baka ini berbentuk melingkar ada 2 sungai yang membelah Nagari ini yang biasa disebut Tangaya dan Tangaya Aia Rabang. Kehidupan masyarakat pada umumnya adalah bertani baik ke sawah maupun ke ladang, ada juga yang menjadi nelayan danau, pedagang dan hanya sedikit yang menjadi pegawai swasta maupun pemerintahan.
Setiap Nagari di Minangkabau dikepalai oleh seorang Wali Nagari, kalau di kota mungkin disebut Lurah. Dalam Nagari dibagi menjadi beberapa jorong kalau di kota disebut RT/RW, di Saniang Baka sendiri ada sekitar 10 jorong yang dikepalai oleh Wali Jorong. Dalam Jorong tersebut biasanya dihuni oleh orang yang masih sesuku atau beberapa suku. Suku di Saniang Baka ada sekitar 10 suku juga.
Sekarang, hampir setahun setelah pulang kampung kemaren saya berkesempatan lagi pulang tapi dengan waktu lebih lama. Sekitar 2 bulan saya akan tinggal di Sumatera Barat karena berkesempatan magang di PT. Semen Padang selama 1 bulan dan 1 bulan selanjutnya menikmati kampung halaman.
Disela-sela waktu magang, setiap weekend jika tidak ada kegiatan saya selalu pulang ke Saniang Baka. Masih saja tak ada perubahan berarti yang terlihat, ada perubahan tapi lebih kepada perubahan yang buruk. Perubahan yang sangat jelas terlihat yaitu jalan utama kampung yang semakin buruk dan rusak. Selepas dari Sumani kita akan disambut oleh persawahan yang hijau dan gapura Saniang Baka, rasanya jalan menuju kampung semakin sempit saja. Apalagi jika kita berlawanan arah dengan truk – truk yang membawa material, hampir semua jalan dipakainya seolah kita hanya menumpang jalan saja dijalan kita sendiri apalagi jika sopirnya ngebut.
Sampai di Palolabuh dekat Puskesmas, saya disambut oleh jalan yang rusak padahal tahun sebelumnya tidak. Katanya ada polongan/saluran air dibawah jalan pecah sehingga menyebabkan jalan rusak. Saya ke kampung tanggal 11 Januari 2014 ketika jalan itu sudah rusak, sampai kemarin (2 februari 2014) saya terakhir dikampung jalan tersebut masih belum kembali normal. Selain itu jalan di daerah Tanjuang, depan gedung yang dulunya BPR juga rusak, menurut saya itu sebenarnya sudah tak layak dilalui.
Tak jauh berbeda dengan jalan di sebelum tanjakan Balai Lalang, jalan juga sudah rusak dan sangat berisiko jika dilalui kendaraan. Banyak lagi jalan-jalan utama Saniang Baka yang rusak, namun yang paling menyedihkan adalah jalan ke arah Pila sudah seperti jalan ke Ladang. Selain rusak (tidak rata dan berlubang) juga banyak material yang berserakan dijalan yang bisa meningkatkan resiko kecelakaan. Selain itu, jalan menuju palobanda juga semakin buruk, sangat tidak nyaman kesana apalagi kalau pakai motor matic. Walau pemandangan kesana bagus tapi kalau aksesnya susah orang juga tak berminat kesana.
Walaupun jalan-jalan yang buruk itu, ada satu yang membuat saya sangat tertarik yaitu dibangunnya jalan dari Tampat menuju Pinang. Sebagian jalan sudah dicor namun sebagian lainnya belum, namun bisa dilalui dengan cukup baik. Jika kita melewati jalan tersebut kita akan melihat indahnya nagari Saniang Baka dan danau singkarak, kalau cuaca cerah kita akan melihat indahnya Gunung Marapi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Solo Travel : Cara Hemat dari Solok Ke BIM ( Bandara International Minangkabau)

Halo semuanya, akhirnya bisa nulis lagi disini karena baru ada yang mau di posting dan sedang ada niat :D Okey, 2 minggu lalu saya berkesemp...