Matahari mengalah demi sang bulan, kelampun meliputi langit. Gemuruh mulai bersahutan, sekarang memang musim hujan. Sesekali kilat menyambar. Diruangan itu, sebuah perpustakaan tua di universitas yang tua pula. Alissa masih duduk tertegun, ia masih belum percaya apa yang telah terjadi. "Sa, aku mau sendiri dulu untuk saat ini", Yoga yang duduk dihadapan Alissa memulai pembicaraan. "Apa yang terjadi? Apa aku mengganggu?", Alissa langsung menutup buku yang ia baca. "Bukan, bukan itu. Aku hanya butuh waktu untuk sendiri saat ini. Bukan waktu yang tepat bagi kita untuk bersama sekarang. Kita tak usah bertemu dan berkomunikasi lagi, berjauhan mungkin akan lebih baik daripada aku menyakiti hatimu terus", lancar Yoga berucap tanpa melihat mata gadis yang mulai berkaca-kaca itu. Alissa masih ternganga, tak percaya apa yang didengarnya sambil mengingat apa yang sebelumnya terjadi kenapa Yoga sampai berkata seperti itu, rasanya tak ada yang salah. "Tapi, kenapa? apa yang salah? Kita sudah seperti saudara sendiri", Alissa mulai terisak. "Tak usah terlalu menganggapku seperti itu, lebih baik kita melanjutkan hidup masing-masing. Aku harap kamu mengerti sa, maafkan aku", Yoga berlalu meninggalkan Alissa yang mulai menangis.
***
Mungkin empat tahun yang lalu, ketika mereka masih berseragam abu-abu. Getaran-getaran cinta mulai menyelinap di kalbu dua insan itu. Sebelum melanjutkan kuliah keluar kota, Yoga menyatakan perasaan yang telah lama ia simpan pada Alissa. Gadis lugu yang menawan itu menerima Yoga, padahal ia tahu setelah itu mereka akan berpisah. Ia tak terlalu mengerti apa itu cinta, yang ia tahu ia merasa nyaman dan senang bersama Yoga. Tak ada kata cinta yang terucap, tak ada rindu yang terpendam, semua yang dirasa hanya keindahan. Mereka saling mencintai.
***
Yoga menembus rintik air yang mulai berjatuhan, perasaannya tak karuan. Namun ia yakin ini adalah pilihan terbaik. Ia tak mampu lagi melihat wajah lugu menawan itu dihujani air mata karenanya. Keputusannya bulat, tak mau lagi bersama Alissa. Alasannya, hanya dia yang tahu.
***
Musim berganti, Alissa masih belum sepenuhnya menerima kondisinya. Ia tak mengerti kesalahannya, tak ada alasan logis yang dilontarkan Yoga walau hanya sepatah katapun. Meluapkan perasaan hingga bantalnya basah menjadi kebiasaan barunya. Entah berapa kali Lia menasehatinya bahkan memarahinya. "Apa pula gunanya kau tangisi laki-laki seperti itu? Jika ia cinta, ia akan mempertahankn hubungan kalian". Alissa terisak, ia sebenarnya sadar, paham dengan apa yang diucapkan Lia, sahabatnya, tapi hatinya masih menolak menyadari itu semua. "Tak apa kau tak dengar ocehanku ini, nanti kau akan sadar sendiri. Lagian ku dengar, Yoga sudah punya pacar, teman sekelasnya. Kau masih mau menangisinya? Terserah kau sajalah!", Lia berangkat ke kampus meninggalkan Alissa yang membatu.
Alissa terdiam, tatapannya entah kemana namun pikirannya mengingat apa yang dikatakan Yoga waktu mereka berpisah. Bukankah Yoga bilang ingin sendiri? Tapi kenapa sekarang ia punya pacar? Ia sadar, ia dikhianati Yoga. Perlahan namun pasti, Alissa menghapus Yoga dan kenangannya.
***
Dua tahun setelah ia sadar akan perlakuan Yoga, ia lulus kuliah dan mendapat beasiswa untuk melanjutkan kuliahnya ke luar negeri, Jerman. Negara impiannya. Alissa selalu menyibukkan diri dengan hal-hal positif agar tak mengingat Yoga lagi. Sambil menunggu waktu keberangkatan ke Jerman, Alissa hanya berjalan-jalan menikmati sisa harinya di kota itu. Alissa duduk disebuah kafe memandang ke arah jalan raya, tak ada yang diperhatikannya, hanya memandang. Tiba-tiba ada yang memanggilnya, Reno, temannya dan juga teman Yoga. "Sa, kudengar kamu dapat beasiswa ke Jerman? Selamat ya?", sambil mencari posisi duduk yang pas Reno menyalami Alissa. "Iya, Alhamdulillah dikasih kesempatan itu. :) Kamu lagi sibuk apa? Lama ga keliatan". " Ya gini-gini ajalah, pengacara (pengangguran banyak acara) haha". Mereka berdua tertawa riang karena sudah lama tak bertemu. "Eh, gimana sekarang? udah punya pacar baru?", tanpa ba bi bu Reno bertanya seperti itu. "Belum, single is better", Alissa menjawab singkat. "Hmmm, masih sering denger kabar Yoga ga? Kabarnya dia punya pacar baru", Reno tanpa dosa bicara seperti itu. "Ga tau, ga pernah tau kabarnya lagi. Katanya sih emang gitu (punya pacar baru)" Alissa dengan malas menjawab. "Tapi kalo nanti Yoga minta balikan ama kamu gimana Sa? Sebenarnya dia kan masih cinta ama kamu?" Reno masih melontarkan pertanyaan yang menyebalkan. "Reno, gini ya, sebenarnya aku malasa jawab pertanyaan kamu. Sekarang kamu pikirin deh, kamu bisa ga hidup ama orang mati?. "maksudnya?". "Aku sudah menghidupkan orang yang salah dalam separuh hidupku dulu, aku menghidupkan dirinya dalam sebagian diriku. Namun sayang ia membunuh apa yang aku hidupkan dulu, yang sudah mati tak akan hidup lagi kan?". "Ok, aku mengerti". Setelah itu mereka bercerita panjang lebar tentang masa-masa yang telah dilewati tanpa menyinggung Yoga lagi. Reno mencoba memahami perasaan Alissa.
***
Alissa berangkat, meninggalkan semua kenangan buruknya dikota itu. Ia akan menjemput harapan baru di negeri impiannya. Alissa, bertemu dengan sesama mahasiswa Indonesia yang juga kuliah disana, mereka berhubungan baik. Alissa memang selalu berusaha bersikap baik dengan semua orang, karena ia berfikir merekalah keluarganya dinegeri Hitler ini. Doni, laki-laki yang mengagumi Alissa, selalu menanti sampai Alissa membuka hati untuknya. Sebenarnya Alissa juga menyukai, namun ia belum mampu untuk menjalin hubungan baru dengan orang lain. "Dengan orang yang sudah lama kenal dan dekat saja, aku belum bisa membahagiakan. Apalagi dengan orang yang baru". Selalu itu yang membuat Alissa sulit menerima cinta yang baru, ia takut tak bisa membahagiakan orang yang mencintainya. "Alissa, aku akan menerima kamu, masa lalu, masa sekarang dan yang akan datang. Kita bertemu disini dan aku mencintai kamu saat itu, bukan masa lalumu. Masa lalu itu milikmu, tak ada hak ku untuk peduli dan mengetahuinya. Percayalah Alissa". Keseriusan Doni, melumpuhkan kerasnya hati Alissa, mereka menjalin hubungan serius dan berencana menikah setelah lulus S2 di kota mereka.
***
Dua Tahun kemudian
Dua Tahun kemudian
Kota itu masih sama seperti terakhir dia melihatnya dua tahun yang lalu, hanya kendaraan yang sedikit bertambah yang berkontribusi pada kemacetan. Yoga, dua tahun ditinggalkannya sudah beberapa kali ganti pacar. Rupanya ia belum menemukan wanita yang tepat untuk dijadikan istri, padahal pekerjaannya sudah cukup lumayan. Yoga, mendengar kabar bahwa Alissa pulang dari Jerman. Besar harapan Yoga untuk kembali bersama Alissa, ternyata gadis yang ditinggalkannya itulah yang ditunggu-tunggunya selamanya ini. Tak ada wanita yang mencintainya setulus cinta Alissa.
***
"Halo, apakah ini benar nomor hp Alissa?". Jantung Alissa berdetak kencang, ia kenal sekali dengan suara itu, sudah lama ia tak mendengarnya. "Ya, saya sendiri. Maaf ini siapa ya?", Alissa mencoba menjawab setenang mungkin. "Sa, ini Yoga. Apa kabarmu?", Yoga semangat sekali memulai percakapan. "Ya, aku baik-baik saja. Bagaimana kabarmu?". "Baik juga sa. Sa, jika ada waktu aku ingin bertemu denganmu. Ada yang ingin aku bicarakan". Alissa, dalam hatinya masih ingin bertemu cinta pertamanya itu, bagaimana rupanya sekarang. Tapi ia juga tak mau bertemu, hanya membuka luka lama. "Aku pikir-pikir dulu, masih ada sedikit urusan dirumah". "OK, tak apa. Aku akan menunggu. Terimakasih Sa, aku akan menghubungimu lagi".
***
Mereka bertemu disebuah kafe yang cukup terkenal dikota itu. Yoga terlihat sangat rapi dan gagah dan sudah duduk menanti Alissa datang. Alissa datang dan duduk didepan Yoga, mereka berhadapan, posisi yang tidak menyenangkan bagi Alissa. "Sa, mau pesen apa? Coklat panas ya?" . Yoga memang tahu apa yang disukai Alissa, sebenarnya Alissa juga mau memesan itu tapi karena Yoga bilang terlebih dahulu dia tak jadi memesannya. "Capucino aja Ga", Alissa menjawab singkat. Sambil menunggu pesanan datang. Yoga memulai percakapan dengan serius, "Sa, sebelumnya aku minta maaf soal waktu itu". "Soal apa ya? Kapan?". "Beberapa tahun yang lalu soal hubungan kita". "ooo itu, aku sudah lupa". "Sa, maafin aku , aku ga bermaksud seperti itu waktu itu. sekarang kita sudah sama-sama dewasa, aku fikir kamu paham dengan apa yang aku maksud, aku ingin kita bersama lagi. Aku dulu memang salah, maafkan aku, beri aku kesempatan sekali lagi", mata Yoga tak lepas dari wajah Alissa, memperhatikan responnya. "Oh,, untuk apa?", balas Alissa cepat. "Sa, aku sadar selama ini cuma kamu yang sayang ama aku dengan tulus, ternyata kamu wanita yang aku cari selama ini. Sa, aku ingin hidup bareng kamu sampai tua nanti" Yoga denga penuh penyesalan mencoba mendapatkan hati Alissa kembali.
Dada Alissa sangat sesak mendengar itu semua, dia berharap mendengar itu semua 2 tahun yang lalu namun ia mencoba setenang mungkin. "Yoga, aku udah maafin kamu jauh sebelum kamu minta maaf saat ini. Tapi seharusnya kamu ga bilang hal itu saat ini, karena udah ga mungkin". "Kenapa sa? kamu udah punya pacar?" Yoga memang belum tahu jika Alissa sudah punya pacar lagi. "Nanti kamu juga tahu sendiri Ga, aku pamit dulu ya." Alissa segera pergi karena tak mampu lagi menjawab pertanyaan yang akan dilontarkan Yoga.
"Don, minggu kemarin aku bertemu Yoga", Alissa agak gugup membicarakan hal itu. "Hmmm, gimana kabarnya?" Doni keliatan tenang walau sebenarnya dia sangat cemburu. "Baik, dia minta maaf dan minta balikan ama aku, kayaknya dia belum tahu hubungan kita", Alissa tak menatap Doni menyampaikan itu, ia tahu Doni tak senang. "Trus kamu bilang apa sa?. "Aku cuma bilang aku udah maafin dia dan balikan itu sesuatu yang tak mungkin". Doni sedikit tenang tapi,
"Sa, aku mau tanya kamu harus jawab jujur ya?".
"Apa don? kayaknya serius banget? ."
"Iya, kamu sebenarnya masih cinta ga sih ama Yoga?" Pertanyaan yang menyudutkan Alissa. Tak mungkin Alissa jawab kalau dia benar masih mencintai Yoga.
"Kamu nanya nya kok gitu sih, itu udah dulu Don ga usah diungkit lagi" Alissa tak mampu menjawab pertanyaan Yoga.
"Sa, tapi kamu ga jawab pertanyaan aku sa. Kamu masih cinta kan ama Yoga?
"Maaf don, aku ga bisa jawab". Doni langsung paham perasaan Alissa yang menyisakan gelisah dihatinya.
Dada Alissa sangat sesak mendengar itu semua, dia berharap mendengar itu semua 2 tahun yang lalu namun ia mencoba setenang mungkin. "Yoga, aku udah maafin kamu jauh sebelum kamu minta maaf saat ini. Tapi seharusnya kamu ga bilang hal itu saat ini, karena udah ga mungkin". "Kenapa sa? kamu udah punya pacar?" Yoga memang belum tahu jika Alissa sudah punya pacar lagi. "Nanti kamu juga tahu sendiri Ga, aku pamit dulu ya." Alissa segera pergi karena tak mampu lagi menjawab pertanyaan yang akan dilontarkan Yoga.
***
Alissa tak mampu menyembunyikan perasaannya, benar ia masih mencintai Yoga. Masih mengharapkan Yoga bisa hidup bersamanya. Namun saat ini tak mungkin, karena ia sudah berjanji pada Doni. Lelaki itu terlalu baik untuk ia tinggalkan, tak sedikitpun Doni mengeluh pada Alissa ia selalu menerima Alissa apa adanya.
***
Seminggu setelah bertemu Yoga, Alissa bertemu dengan Doni dirumahnya. Alissa mulai mengenalkan Doni pada keluarganya, dan mereka menerima dengan baik. Karena memang tak ada alasan untuk menolak Doni. Rumah Alissa, dikampung terletak dipinggir sawah yang hijau. Dibelakang rumahnya terdapat gazebo yang sering digunakan Alissa sebagai tempat bersantai. Sore itu, Alissa dan Doni duduk disana sambil menikmati keindahan alam itu. Mereka membicarakan rencana mereka kedepan, namun ada yang mengganjal dihati Alissa, pertemuannya dengan Yoga minggu lalu. Antara mereka berdua memang tak ada yang disembunyikan, selalu berusaha untuk terbuka aga tidak ada salah paham."Don, minggu kemarin aku bertemu Yoga", Alissa agak gugup membicarakan hal itu. "Hmmm, gimana kabarnya?" Doni keliatan tenang walau sebenarnya dia sangat cemburu. "Baik, dia minta maaf dan minta balikan ama aku, kayaknya dia belum tahu hubungan kita", Alissa tak menatap Doni menyampaikan itu, ia tahu Doni tak senang. "Trus kamu bilang apa sa?. "Aku cuma bilang aku udah maafin dia dan balikan itu sesuatu yang tak mungkin". Doni sedikit tenang tapi,
"Sa, aku mau tanya kamu harus jawab jujur ya?".
"Apa don? kayaknya serius banget? ."
"Iya, kamu sebenarnya masih cinta ga sih ama Yoga?" Pertanyaan yang menyudutkan Alissa. Tak mungkin Alissa jawab kalau dia benar masih mencintai Yoga.
"Kamu nanya nya kok gitu sih, itu udah dulu Don ga usah diungkit lagi" Alissa tak mampu menjawab pertanyaan Yoga.
"Sa, tapi kamu ga jawab pertanyaan aku sa. Kamu masih cinta kan ama Yoga?
"Maaf don, aku ga bisa jawab". Doni langsung paham perasaan Alissa yang menyisakan gelisah dihatinya.
***
1 of ....




