Senin, 13 Juli 2020

Trip To Parigi Moutong : Sunrise di Tugu PMK, Menyelam di Lebo dan santai di Pantai Kucing

    Kenangan di Sulawesi Tengah tak akan pernah terlupakan. Selama 4 bulan disana beberapa tempat wisata saya datangi melepas stress dan menenangkan pikiran di sela-sela tugas yang menanti. Hari itu 17 Februari 2019, sehari sebelum kepulangan saya ke Jakarta, kami berempat (saya , mba Zunita, Nandar, dan Shinta) sudah berencana untuk pergi ke Parigi Moutong (Parimo) untuk mencoba Diving karena Nandar adalah salah satu penyelam disana. O ya, Nandar adalah orang asli Parigi Moutong, relawan Muhammadiyah Sulawesi Tengah yang selalu menemani kami kemanapun pergi. Ya iya lah, dia yang bawa mobil :D
    Kami berangkat setelah shubuh sekitar pukul 05.00 WITA agar bisa lihat matahari terbit di Tugu PMK (Parigi Moutong Khatulistiwa) dan biar ga kebagian jalan tutup atau satu arah karena sedang perbaikan jalan Trans Sulawesi. Perjalanan dari Kota Palu ke Parimo sekitar 1,5-2 jam tergantung sopir dan kepadatan jalanan. Karena kami berangkat pagi jadi jalanan lancar jaya cenderung sepi. Selama perjalanan, saya banyak tidur karena masih ngantuk dan masih gelap jadi tidak ada yang bisa dilihat. Saya pikir jalanannya seperti jalan Solok- Padang, yang memberlah bukit barisan.
    Memasuki daerah Parimo sudah mulai terang dan kami bertemu dengan Boti, monyet khas Sulawesi tengah yang berwarna hitam. Mereka bergerombolan sedang menikamti pagi dipinggir jalan dan berharap ada yang memberi makanan. Saya baru pertama kali melihat monyet hitam ini secara langsung, lucu sih tapi tetap aja takut kalo di deketin. Beruntung kami membawa beberapa makanan kecil untuk mengganjal perut selama di perjalanan karena ga sempat sarapan. Saat mau ngasih roti, si monyet nyamperin sampe ke mobil dan mau masukin tangannya ke dalam mobil. kaget bukan main dan langsung tutup jendela.
Monyet Boti, Khas Sulawesi

    Kemudian kami melanjutkan perjalanan, Matahari mulai terbit perlahan. Cahaya kuning oren keemasn mulai berkilau dan kami berhenti sejenak untuk mengabadikan momen tersebut. Beruntung sekali pagi itu cerah dan matahari terbitnya cantik sekali. Tidak lama kemudian kami sampai di PMK, walau matahari sudah mulai naik tapi tetap bisa melihat keindahan Teluk Tomini di pagi hari yang tenang itu.

Matahari terbit

Teluk Tomini dari PMK

    Setelah dari PMK kami langsung kerumah Nandar yang tak jauh darisana, suasana kota Parimo yang tenang dan lumayan bersih sangat menyegarkan. Rumah nandar berada di pinggir jalan raya dan tak jauh dari pantai, bisa jalan kaki. Berada di lingkungan TNI AL, disanalah kami akan meminjam perlatan Diving dan menyelam sebentar dilaut belakang rumah itu. Itu adalah pertama kalinya saya mencoba untuk masuk ke laut, bukan cuma basah-basah kaki. Pantainya berbatu kecil-kecil tapi bersih, air lautnya sangat jernih dan sangat biru karena pantulan langit yang cerah.
Pantai Belakang rumah

    Sayangnya tidak ada poto yang saya simpan selama menyelam. Tapi itu jadi pengalaman menarik bagi saya pribadi, mengetahui sampai mana rasa takut yang saya miliki. Ternayata saya takut melihat laut yang begitu dalam dan gelap. Kami menyelam hanya sanggup sampai 10 - 11 meter, tapi sudah cukup bagus untuk pemula. Setelah membersihkan diri dan peralatan diving kami kembali kerumah untuk makan karena memang sudah lumayan keroncongan. Mamanya Nandar masak cumi hitam, yang awalnya saya agak aneh melihat makanan dengan warna itu. Tapi ternyata rasanya enak banget sampai saya ingin tambah terus.
    Kemudian kami melanjtukan perjalanan ke Pantai Kucing yang juga masih di Parimo, ini merupakan objek wisata yang cukup populer tapi saat kami kesana aktivitas wisata belum terlihat seperti restoran dan homestay yang belum buka namun sudah ada beberapa orang yang datang kesana.Pantai Kucing sangat bagus, ada beberapa homestay di pinggir pantai, airnya sangat jernih hingga bisa melihat dasar lautnya.
Pantai Kucing


Mencoba untuk tetap membuka mata walau panas terik

    Perjalanan kami satu hari ini sangat menyenangkan dan kami kembali ke Palu sebelum jalan ditutup. Tapi kami terlambat ternyata jalan ke Palu sudah tutup (yang dibuka jalan arah Parigimo) dan harus menunggu beberapa agar dibuka. Sudah banyak kendaraan yang mengantri untuk masuk Palu, karena cukup lelah akhirnya kami ketiduran di mobil dan terbangun sesaat jalannya sudah dibuka. Untung saja , ga sampai diklakson oleh mobil dibelakang.
    Sungguh saya ingin kembali kesana, bukan dalam tugas kebencanaan tapi jalan-jalan menikmati alam dan berkunjung ke tempat teman-teman yang ada disana. Semoga ada rejeki dan kesempatan dilain hari.




Solo Travel : Cara Hemat dari Solok Ke BIM ( Bandara International Minangkabau)

Halo semuanya, akhirnya bisa nulis lagi disini karena baru ada yang mau di posting dan sedang ada niat :D Okey, 2 minggu lalu saya berkesemp...