Euforia hari
raya idul fitri mulai memudar, setidaknya dikampungku yang hanya pas hari raya
pertama berasa. Selebihnya seperti hari biasa saja, hanya mereka yang punya alek yang sedikit sibuk. Hari raya
kedua, saya dan teman-teman seangkatan pas tsnawiyah
pergi ke salah satu air terjun yang ada di Saniangbaka, tepatnya di daerah
Pinang.
Pagi waktu itu
tak terlalu bersahabat, mendung dan berkabut sedikit meragukan hati untuk
melanjutkan perjalanan. Tapi kami tetap pergi karena memang sudah direncanakan
dan cuaca memang sedang galau, pagi gelap namun siang hari terang benderang.
Kami waktu itu berjumlah delapan orang, 7 orang teman satu angkatan dan 1 lagi
kakak kelas. Seperti biasanya, perempuan selalu minoritas kalau menjelajah
hutan seperti ini, hanya 2 orang.
Kami berangkat
sebelum waktu dzuhur, dengan mengendarai motor kami ke simpang sebelum ke arah
air terjun. Kami memarkir motor di depan rumah warga sembari menunggu teman
yang berangkat belakangan. Setelah lengkap,kami memulai perjalanan melalui
sawah-sawah warga yang mulai bertumbuh. Pematang sawah-sawah ditepi bukit
biasanya dipasangi jarek ciliang agar
babi tidak merusak sawah. Tapi siang itu bukan ciliang yang terjerat malah
teman kami yang terperangkap hingga dia masuk ke sawah. :D
Kami jahat sekali,
bukannya menolong tapi malah tertawa terpingkal-pingkal. Setelah melewati sawah
berlanjut masuk hutan yang tak terlalu lebat, kami melewati tembok irigasi yang
mengairi sawah. Karena sudah sangat jarang dikunjungi, akses kesana menjadi
cukup sulit. Banyak jalan setapak yang sudah hilang hingga kami harus
menghindari kayu-kayu dan duri dengan tangan sendiri. Kami lupa membawa sabik dan sudah berusaha meminjam sabik warga sebelum masuk hutan namun
ternyata juga dipakai.
Setelah
melewati kayu-kayu, kami kemudian melewati sungai yang berbatu besar-besar
hingga harus memanjat. Untung masih musim kemarau jadi aliran air tak terlalu
deras jadi tak begitu licin walau masih harus berhati-hati. Perjalanan cukup
membuat nafas sesak dan keringat bercucuran, apalagi kami tak ada yang rajin
berolahraga. Waktu yang kami tempuh sekitar 30 menit berjalan kaki, cukup dekat
memang tapi medan yang dilalui cukup sulit yang membuat kami cukup lelah.
Tap lelahnya
perjalanan terbayar sudah ketika sudah terdengar derasnya air terjun, rasanya
ingin langsung mencebur ke kolamnya. Air terjun kali ini sedikit berbeda dengan
delapan tahun yang lalu, kali ini lebih deras. Tujuh tahun lalu, beberapa waktu
selepas ujian nasional MTs kami bersembilan pergi ke air terjun, perempuannya 3
orang, saya, aulia dan novi. Sayang kali ini novi tidak bisa ikut dan tidak mau
juga karena tidak berada dikampung. Setelah tujuh tahun, akhirnya kami kembali
dengan personil yang sedikit berbeda.
Setelah sampai
di air terjun, kami beristirahat dan mengeluarkan bekal yang telah dibawa.
Berhubung kue lebaran masih banyak jadi kami bawa banyak-banyak. Seperti biasa
juga, yang laki-laki pasti akan menceburkan diri kedalam air yang segar itu
membuat kami iri. Melompat dari tebing yang cukup tinggi. Sudah terbayang
betapa segarnya. Konon katanya dasar kolam ini tak pernah tersentuh, tak ada
yang tau seberapa dalam dasarnya.
Hulu dari air
terjun ini hanya sebuah lurah (semacam
sungai kecil), namanya lurah situka
banang. Muaranya ke Danau Singkarak melalui batang aia rabang. Air terjun ini spot wisata favorit bagi anak SMP
Pinang jaman dulu, berdasarkan cerita dari uni-uni dan uda-uda yang pernah
kesana. Sekarang sepertinya sudah tak begitu populer, mungkin mereka takut
dengan cerita yang selalu mengiringinya ado
rimau baru baranak di ateh mah atau ado
anak rimau disitu mah. Ada juga cerita yang berkembang bahwa didasar
kolam itu ada ular besar. Mungkin
itulah caranya bagi orang-orang tua dulu untuk menjaga alam tetap lestari agar
tak ada tangan-tangah jahil yang merusaknya atau memang cerita itu benar
adanya. Wallahu’alam


